(Taiwan, ROC) -- Sejak pertama kali ditemukan kasus flu babi Afrika di Daratan Tiongkok pada Agustus tahun lalu, saat ini sudah ada 11 negara di Benua Asia yang terserang wabah Asfivirus, dan apakah “tanah bersih” Taiwan ini dapat terus dipertahankan, berbagai instansi dengan ketat menjaganya.
Badan Pusat Operasi Darurat Asfivirus hari Senin (23/12) di bawah instruksi Ketua Dewan Pertanian, Chen Chi-chung, akan melaksanakan simulasi apabila terjadi epidemi flu babi Afrika di Taiwan, tahapan pertama adalah melakukan desinfeksi dengan radius 3 km dari peternakan yang didapati terkena Asfivirus, dan mencatat nama peternakan yang berlokasi di radius 3 – 5 km dari lokasi, mengoperasikan GPS (Sistem Pemosisi Global) terhadap kendaraan pendistribusi ternak babi sehingga dapat melacak proses epidemi serta menempatkan titik pemeriksaan dan juga tempat pensterilan kendaraan pendistribusi babi. Tahap kedua seperti pencegahan peyebaran dan juga kasus pembuangan bangkai babi di peternakan yang terkena kasus. Prosedur simulasi juga akan dilaksanakan di kantor pemda dengan diinstruksikan dari Badan Pusat Operasi Darurat Asfivirus.
Wakil Kepala Dewan Pertanian, Huang Chin-cheng juga mengemukakan, berdasarkan situasi negara tetangga yang terjangkit Asfivirus, semua karena keterlambatan dalam mengetahui adanya kasus, hal ini menunjukkan pada saat pertama timbul kasus tidak dapat terdeteksi langsung dari matinya babi, selanjutnya badan pencegahan akan memperluas wilayah pencegahan dengan demikian baru dapat mencegah menyebarnya virus ini.
Huang Chin-cheng mengatakan, “Situasi di mana keterlambatan mengetahui terjadinya epidemi flu babi Afrika, pada awalnya seekor atau beberapa ekor ternak yang terjangkit, matinya ternak pada awalnya tidak begitu jelas seperti wabah penyakit mulut dan kaki, pada umumnya peternak tidak merasakan kalau sebenarnya Asfivirus telah menyerang, untuk itu kasus dari luar negeri dan contoh kasus lain yang kita lihat tidak bisa menilik dari penampilan luar, sehingga memperlambat dalam pelaporan situasi, ketika benar-benar memastikan dengan test, saat itu virus telah 2 – 4 kali proliferasi, jadi konsepnya pencegahan epidemi regional bukan konsep pencegahan lapangan.”
Huang Chin-cheng juga mengemukakan, setelah terjangkit wabah flu babi Afrika di Korea Selatan, terakhir melakukan pencegahan regional hingga radius 200 km untuk mencekal penyebaran Asfivirus ini, untuk itu dikedepannya jika diperlukan konsep tindakan pencegahan agar tidak melebarnya wabah ini di Taiwan. Terkait apabila sampai timbul kasus flu babi Afrika, pengawasan dari pergerakan peternakan babi hingga radius 3 km dan dilakukan paling sedikit 20 hari baru dapat melepaskan pengawasannya, selain itu pasar babi tidak boleh didistribusikan ke kabupaten dan kota penjagalan lainnya, akan diberlakukan larangan pendistribusian di seluruh Taiwan selama paling tidak 7 hari. Dewan Pertanian juga menyampaikan, larangan distribusi dan penjagalan akan diperluas dan diperpanjang waktunya berdasarkan situasi yang ada.