(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan pengumuman yang diberikan oleh Presiden Chili, Sebastian Pinera, yang menyebutkan bahwa kondisi di dalam negerinya masih tengah berada dalam kekacauan, dan pada hari Rabu malam tanggal 30 Oktober, pukul 10 waktu Taipei, dirinya juga menyampaikan pembatalan penyelenggaraan APEC ke 27 dan COP 25 secara bersamaan. Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Joanne Ou pada hari Kamis pagi tanggal 31 Oktober kembali menyampaikan bahwa pihaknya telah memahami alasan pembatalan yang dilakukan oleh pemerintah Chili, yang dikarenakan ketidak-stabilan kondisi di dalam negerinya, sehingga barulah mengambil keputusan yang sangat sulit dan berat hati. Namun Joanne Ou juga menyebutkan alangkah sayangnya pembatalan APEC tersebut dan berharap kondisi dalam negeri Chili dapat berangsur pulih normal kembali secepatnya. Joanne Ou juga menyebutkan bahwa pihaknya selaku salah satu anggota yang bertanggung jawab dalam rapat sidang APEC, tentu akan menghormati setiap kebijakan dan kegiatan yang dilakukan oleh APEC, dan hingga saat ini masih sangat menghargai langkah yang diambil oleh pemerintah Chili berkenaan dengan pembatalan penyelenggaraan APEC tersebut. Mengenai perkembangan selanjutnya, MOFA juga telah memiliki data yang terbaru dan lengkap, dan akan berupaya semaksimalnya untuk menindaklanjuti kelanjutan langkah berikutnya.
Presiden Tsai Ing-wen pada hari Kamis pagi saat menerima rombongan kunjungan Mantan Kepala AIT, yang juga adalah seorang peneliti senior Brookings Institution, Richard Bush, di Istana Kepresidenannya menyampaikan bahwa selama 40 tahun terakhir, tanpa peduli dimanakah atau di posisi jabatan apakah Richard Bush berada, selalu senantiasa memperhatikan kondisi hubungan Taiwan dan Amerika. Dirinya juga yakin dan percaya jika Richard Bush menyetujui jika kondisi hubungan antara Taiwan dan Amerika selama 3 tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang semakin erat. Presiden Tsai Ing-wen menyebutkan jika tahun ini, hubungan kerjasama antara Taiwan dan Amerika kembali mencatat rekor sejarah baru, yakni pertama kali bersama menggelar kegiatan “A Civil Society Dialogue on Securing Religious Freedom in the Indo-Pacific Region”, “Indo-Pacific Democratic Governance Consultation” dan “Pacific Islands Dialogue”, yang mana ke semuanya berfungsi untuk menambah interaksi satu sama lain sehingga dapat saling memahami dan memperkuat hubungan dalam kawasan. Selain itu, dalam kerangka “Global Cooperation and Training Framework” yang dilakukan oleh Taiwan dan Amerika, juga telah digelar sebanyak 21 lokakarya.
Berkenaan dengan Presiden Chili yang telah mengumumkan pembatalan penyelenggaraan APEC ke 27 dan COP 25, Presiden Tsai Ing-wen juga turut menyayangkannya, dan akan meminta instansi terkait untuk menindaklanjuti keikutsertaan Taiwan dalam berbagai kegiatan Internasional lainnya.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Pagi ini saya telah meminta kementrian terkait untuk menindaklanjutinya. Meskipun rapat sidang telah dibatalkan, namun berkenaan dengan program kolaborasi yang diusung oleh Taiwan, akan tetap meminta kementrian terkait untuk menjalankannya, khususnya dalam hal masalah digitalisasi yang diusung oleh APEC secara jangka panjang, Taiwan harus mampu menunjukkan kemampuannya, memberikan kontribusi, dan apakah forum tetap akan dilaksanakan atau tidak, Taiwan tetap akan berupaya secara semaksimalnya dalam mengikuti kegiatan internasional.”
Presiden Tsai Ing-wen menjelaskan bahwa APEC adalah sebuah platform dialog perekonomian internasional yang sangat penting, juga merupakan salah satu kegiatan internasional penting yang diikuti oleh Taiwan. Pemerintah tetap akan mengimbau kepada seluruh anggota APEC agar dapat berupaya semaksimalnya dan mampu mengambil keputusan yang bijak sebagai bagian dalam hal menindaklanjuti pembatalan tersebut.