(Taiwan, ROC) - Hong Kong harus bertanggung jawab andaikata seorang tersangka yang diburon atas tuduhan tindak pidana pembunuhan di Taiwan melarikan diri setelah dibebaskan dari penjara di Hong Kong Rabu pagi.
Demikian ditegaskan Dewan Urusan Daratan Tiongkok (MAC) melalui juru bicaranya Chiu Chui-cheng (邱垂正) perihal dibebaskannya Chan Tong-kai (陳同佳) oleh pihak Hong Kong setelah Chan menyelesaikan masa hukuman penjara atas tindak pidana mencuri uang pacar yang dibunuhnya di Taiwan, padahal pihak Taiwan telah mengajukan permintaan mengutus personel kepolisian dan jaksa penuntut ke Hong Kong untuk membawanya kembali ke Taiwan untuk diinterogasi dan diadili atas tuduhan membunuh pacarnya.
Chan diduga membunuh pacarnya Poon Hiu-wing (潘曉穎) ketika keduanya bepergian di Taiwan pada Februari 2018. Ia kemudian melarikan diri sebelum polisi Taiwan mengidentifikasinya sebagai tersangka utama pada bulan Maret.
Setelah itu, pihak berwenang Taiwan meminta dikirimnya Chan untuk menghadapi pengadilan di Taiwan dan meminta Hong Kong untuk bekerja sama dalam penyelidikan, tetapi tanpa perjanjian ekstradisi, Chan tetap tinggal di Hong Kong.
Chan dijatuhi hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah mencuri uang Poon dengan kartu ATMnya setelah diduga membunuhnya, tetapi itu hanya membuatnya dipenjara sampai 23 Oktober.
Hong Kong mengatakan tidak dapat menuntut Chan atas tuduhan pembunuhan karena bukti kunci berada di Taiwan.
Pada 18 Oktober, tidak lama sebelum dia dibebaskan, Chan menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan diri kepada otoritas Taiwan, tetapi pemerintah Taiwan menolak gagasan itu dengan alasan politik dan meminta Hong Kong untuk menuntut kasus tersebut.
Beberapa hari kemudian, setelah dituduh menyerahkan yurisdiksinya atas kasus ini, pemerintah Taiwan berbalik arah. MAC pada Selasa malam mengatakan akan mengizinkan Chan masuk ke Taiwan jika Hong Kong mengabulkan permintaan Taiwan untuk mengutus polisi dan jaksa penuntut menuju Hong Kong untuk membawa Chan kembali ke Taiwan.
Hong Kong menolak permintaan itu, menyebutnya "tidak dapat diterima" dan menuduh pihak Taiwan gagal menunjukkan rasa hormat terhadap yurisdiksi Hong Kong.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu pagi, Pemerintah Administrasi Khusus Hong Kong (HKSAG) mengatakan bahwa otoritas Taiwan tidak memiliki kekuatan penegakan hukum di Hong Kong.
"Chan adalah orang yang dicari di Taiwan dan keputusan penyerahannya bersifat sukarela. Karena ia akan menjadi orang bebas setelah dibebaskan dari penjara, pemerintah Hong Kong tidak memiliki wewenang untuk memaksakan tindakan pembatasan apa pun padanya,” lanjut pernyataan tersebut.
Sementara itu, Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) pada hari Rabu menegaskan kembali pendapatnya bahwa pemerintah Taiwan tidak pernah menyerahkan yurisdiksi dalam kasus pembunuhan yang melibatkan dua warga negara Hong Kong tersebut.
Presiden Tsai mengatakan, “Harus ditegaskan bahwa tersangka dalam kasus ini telah diburon di Taiwan, maka adalah seorang buronan. Dalam arti kata, dalam kasus ini, tidak ada masalah turis backpackers, tidak ada masalah menyerahkan diri, yang ada hanya masalah penangkapannya.”
Menurut Tsai, karena pihak Hong Kong tampaknya menyerahkan yurisdiksinya atas masalah ini, pemerintah Republik Tiongkok akan menangani kasus ini dari sekarang.