Presiden Ma Ying-jeou menyerukan partai oposisi tidak lagi memboikot persidangan Yuan Legislatif untuk menghalangi disetujuinya rancangan Perjanjian Perdagangan Jasa antar Selat Taiwan.
Ma juga menghimbau partai berkuasa dan oposisi untuk bekerja sama mengadopsi sikap rasional dan pragmatis untuk menghadapi integrasi ekonomi regional serta liberalisasi perdagangan global, agar pertumbuhan ekonomi Taiwan tidak lagi terhalang.
Kepala negara mengutip tajuk rencana Wall Street Journal beberapa hari lalu dan menegaskan bahwa artikel berjudul “Taiwan Leaves Itself Behind” itu telah dengan jelas menguraikan masalah yang dihadapi Taiwan, dan mengingatkan bahwa liberalisasi, internasionalisasi dan kerja sama antar Selat Taiwan adalah tiga kecenderungan dunia yang harus diadopsi Taiwan. Terhadap kekhawatiran bahwa ekonomi Taiwan akan menjadi terlalu bergantung pada Daratan Tiongkok, Presiden beranggapan, hubungan ekonomi dan perdagangan antar Selat Taiwan adalah suatu kondisi nyata, andaikata tidak menjalin hubungan dengan Daratan Tiongkok, kerugian hanya akan dialami Taiwan.
Presiden Ma mengatakan, “Hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Daratan Tiongkok sudah menjadi suatu kenyataan, jadi kita tidak boleh menghentikan investasi atau menarik kapital atau tidak mau lagi menjalin hubungan tersebut dengan Daratan Tiongkok, karena ini hanya akan merugikan Taiwan sendiri. Untuk itu, kita harus teken secepatnya, agar setiap negara tahu bahwa Taiwan telah membuka pintu investasi bagi semuanya dan tidak hanya terbatas pada Daratan Tiongkok. Dengan demikian, kerugian di masa depan baru bisa dikurangi.”
Ma dengan tulus mengharapkan dihentikannya pertentangan politik domestik, karena kendati pertentangan ini telah dimenangkan, tapi kalau ekonomi Taiwan dikorbankan dalam proses pertentangan, yang kalah adalah masyarakat Taiwan sendiri.