(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan aksi demo penolakan RUU Ekstradisi di Hong Kong yang masih terus bermekaran di berbagai tempat, ormas Hong Kong mengusung aksi demo serantak tolak totaliterisme seluruh dunia pada tanggal 29 September. Untuk kawasan Taiwan sendiri, terdapat beberapa ormas yang turut mendukung, yang mana akan ada banyak pawai demo dengan tajuk “Dukung Hong Kong, tolak totaliterisme” di berbagai kabupaten dan kota di seluruh Taiwan. Berkenaan dengan kegiatan ini, Walikota Taipei Ko Wen-je pada hari Sabtu tanggal 28 September menyampaikan bahwa di Taiwan memiliki kebebasan untuk bersuara dan tidak bersuara. Dalam menghadapi kondisi seperti demikian, sikap yang akan diambil tetap berpikiran yang positif dan berjalan secara natural, karena kunci utama penyelesaian kondisi sembrawut di Hong Kong berada pada pemerintah Beijing.
Ko Wen-je menyebutkan dengan kondisi kerusuhan yang terjadi di Hong Kong, akan memberikan dampak pengaruh besar dalam hal kestabilan keamanan kehidupan sosial masyarakat dan pertumbuhan perekonomian, dan secara tidak langsung juga akan memberikan imbas bagi Taiwan. Taiwan adalah kawasan permukiman Tionghwa termaju di dunia, tentu memiliki banyak pengalaman yang dapat dibagikan kepada pemerintah Beijing sebagai rujukan, termasuk bagaimana Taiwan menjalani 30 tahun sejarah perkembangan demokrasinya, terlebih-lebih jika Hong Kong sendiri mampu bertahan hidup dengan penuh kebebasan selama 100 tahun saat berada dalam masa kependudukan Inggris. Untuk itu, Ko Wen-je juga mengimbau pemerintah Beijing dapat menggunakan cara yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan di Hong Kong. Jika menyebutkan aksi demo yang terjadi di Hong Kong adalah perbuatan CIA atau kerjasama kubu merdeka Hong Kong dan Taiwan, itu menandakan sikap menyepelehkan permasalahan yang telah terjadi, dan tidak benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan.
Ko Wen-je menambahkan jika dirinya juga turut menyampaikan solidaritas untuk Hong Kong, dan berharap pemerintah Beijing dapat segera mengambil langkah yang bijak dalam penyelesaiannya. Jika Hong Kong sempat tidak terkendali, maka akan dapat berkembang menjadi kondisi 60:40, dengan turut mempertaruhkan pereknomian yang telah dibangun oleh Tiongkok dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini. Ini dikarenakan negara-negara di kawasan Uni Eropa dan Amerika, kebetulan belum menemukan celah untuk bertarung dengan Daratan Tiongkok. Untuk itu, maka dilanjuti dengan pertanyaan “Lantas, mengapa saat terjadi permasalahan di Hong Kong, malah membiarkan pihak Eropa dan Amerika menjadikannya sebagai alasan untuk melawan Daratan Tiongkok?”
Dengan adanya tekanan yang diberikan oleh Daratan Tiongkok belakangan ini, Taiwan telah kehilangan 2 negara sahabat diplomatiknya. Ko Wen-je mengutarakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Taiwan tidak akan mampu memberikan dampah pengaruh yang nyata, hanya sekedar rasa puas dalam diri semata. Ko Wen-je meminjam kata-kata dari Deng Xiao-ping yakni: Tidak peduli apakah itu kucing hitam atau kucing putih, selama bisa berburu tikus maka ia adalah seekor kucing yang bagus”, yang artinya saat melakukan sesuatu hal, maka harus melihat hasil akhir yang sebenarnya tercapai, maka tetap membutuhkan pemikiran yang cermat dan cerdas.