(Taiwan, ROC) – Tahun ini kehadiran Taiwan dalam konferensi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kembali ditangguhkan. Meski demikian, Taiwan bersama dengan Amerika Serikat menggelar pertemuan bilateral di luar dari lokasi penyelenggaraan konferensi ICAO. Selain kembali menegaskan dukungannya terhadap Taiwan, perwakilan Negeri Paman Sam juga meluangkan waktu untuk menghadiri jamuan diplomatik yang diselenggarakan di Montreal.
Perwakilan Amerika Serikat yang kali ini ikut dalam jamuan diplomatik tersebut, sebagian besar merupakan pejabat teknis di tingkat biro. Perwakilan Republik Tiongkok di Montreal, Winston Chen (陳文儀), mengemukakan beberapa topik penting dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut, terutama mencakup isu teknis dalam menghadapi ragam tantangan di masa mendatang.
Winston Chen menambahkan bahwa pihak Amerika Serikat kembali menyatakan dukungannya untuk menyertakan Taiwan dalam konferensi akbar ICAO.
Guna mengucapkan rasa terima kasih kepada negara sahabat, yang telah menyatakan dukungannya atas Taiwan, sebuah jamuan diplomatik digelar oleh Perwakilan ROC di Montreal. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis malam tersebut (26/9), dihadiri oleh 9 negara diplomatik Taiwan; misal eSwatini, Haiti dan Saint Lucia. Selain itu, 6 perwakilan negara, termasuk Amerika Serikat dan anggota NGO, juga hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Montreal tersebut. Winston Chen melanjutkan jamuan malam tersebut berhasil mengundang 150 tamu kehormatan. Dengan hadirnya pejabat teknis Amerika Serikat, Winston Chen menyampaikan bahwa ini merupakan salah satu bukti nyata akan dukungan Negeri Paman Sam terhadap Taiwan. Selain dengan Amerika Serikat, tim delegasi juga menggelar pembicaraan bilateral dengan negara-negara sahabat; misal Tuvali, Belize dan Honduras.
Wakil Biro Penerbangan Sipil (CAA), Ho Shu-ping (何淑萍), mengemukakan konferensi ICAO telah meloloskan edisi terbaru “Global Air Navigation Plan”. Dalam perencanaan tersebut tersirat program navigasi dunia dalam kurun waktu 15 tahun mendatang. Menilik isi dari program ini, Ho Shu-ping, mengemukakan bahwa rencana penerbangan di kawasan regional juga akan direncanakan di masing-masing wilayah. Perencanaan ini menekankan bahwa masing-masing negara wajib mengkomunikasikan ragam pendapat, guna mencapai konsensus, yang dapat menjamin keamanan penerbangan. Di tengah pentingnya esensi dari proyek tersebut, sangat disayangkan jika peran Taiwan harus dikesampingkan. Dengan absennya Taiwan dalam konferensi ICAO, diperkirakan dapat menjadi celah dalam jaminan keselamatan bernavigasi.
Ho Shu-ping melanjutkan Taiwan memiliki beberapa teknologi canggih yang telah melampaui banyak negara di kawasan Asia Pasifik. Ia menambahkan Taiwan sudah seharusnya disertakan dalam konferensi ICAO, yang dapat menjadi ruang bagi dunia luar untuk memahami teknik yang dimiliki Taiwan, serta dapat menjadi platform untuk melangsungkan pertukaran. Yang pada akhirnya semua ini akan mendatangkan manfaat bagi industri navigasi global.