(Taiwan, ROC) - Beberapa kelompok hak asasi manusia (HAM) berunjuk rasa di Taipei, menuntut penyelidikan atas kematian Sri Kodriawati, seorang pekerja migran kehilangan kontak dari Indonesia, yang mereka yakini meninggal akibat perawatan medis yang tertunda disebabkan statusnya sebagai pekerja migran tidak berdokumen.
Dalam unjuk rasa yang diadakan di luar Yuan Pengontrol, Rabu, 4 September, sekretaris jenderal Serikat Nelayan Migran Yilan Allison Lee (李麗華), mengemukakan kepada wartawan bahwa setelah Sri dibawa ke Rumah Sakit Chu Shang Show Chwan di Nantou pada Mei karena menderita sakit perut yang parah, kejadian seputar kematiannya banyak dipertanyakan.
Sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Nantou menunjukkan bahwa Sri meninggal pada 11 Mei pukul 19:46 malam, "setibanya di rumah sakit," tetapi gagal menunjukkan penyebab kematian.
Namun, pacar Sri menyatakan Sri masih hidup ketika membawanya ke rumah sakit, tutur Lee, menambahkan bahwa tak lama setelah dirawat di ruang gawat darurat, Sri dibawa pergi oleh otoritas penegak hukum dan ditahan karena statusnya sebagai pekerja migran tidak berdokumen.
Sri Kodriawati datang ke Taiwan pada 19 Februari 2017 untuk bekerja sebagai perawat rumah tangga di Hualien, tapi kabur dari tempat kerjanya untuk bergabung dengan pacarnya yang bekerja di suatu perusahaan konstruksi di Kotapraja Zhushan, Nantou, kata Lee.
"Kami menduga bahwa perawatan medis yang tepat mungkin telah tertunda atau tertahan, karena tampaknya rumah sakit lebih memprioritaskan pemberitahuan pada pihak penegak hukum tentang pekerja migran tak berdokumen," kata Lee.
"Kami harap Yuan Pengontrol bisa menyelidiki penyebab kematian Sri dan apakah ia menerima perawatan saat tiba di rumah sakit," katanya, seraya menambahkan bahwa pihak rumah sakit sejauh ini menolak untuk merilis catatan medis apa pun kepadanya.
Wallace Huang (黃昱中), konsultan hukum untuk Serikat Nelayan Migran Yilan, menduga bahwa Sri ditinggal di ruang gawat darurat tanpa penerjemah karena aparat penegak hukum menahan pacarnya.
“Akhirnya dia mungkin berbaring di sana tanpa mendapatkan perawatan medis yang sepantasnya,” tukas Huang.
Merespon telepon dari kantor berita CNA, seorang petugas hubungan masyarakat di Rumah Sakit Chu Shang Show Chwan mengatakan dia tidak memiliki catatan medis di tangan, tetapi menambahkan bahwa pihak rumah sakit selalu mencoba untuk menyelamatkan semua pasien dalam menghadapi keadaan medis darurat, tak peduli apakah mereka adalah pekerja migran tidak berdokumen atau bukan.