(Taiwan, ROC) – Kementerian Tenaga Kerja beberapa hari lalu mengeluarkan data statistik terbaru terkait situasi cuti tanpa gaji yang hingga 31 Agustus kemarin bertambah hingga 33 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja yang terdampak sebanyak 2.257 orang, menerobos angka tertinggi terbaru. Menurut analisa Kementerian Tenaga Kerja, penyebab utama adalah pengaruh perang dagang antara Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok mengakibatkan pesanan berkurang, produksi menyusut, ada 3 perusahaan yang menerapkan cuti tanpa gaji pada lebih dari 300 karyawannya, 2 di antaranya adalah yang bergerak di bidang perabot rumah tangga dan yang satunya lagi perusahaan suku cadang.
Meskipun jumlah orang yang terkena cuti tanpa gaji, tetapi dari survei yang dilakukan kementerian tenaga kerja terkait lapangan kerja quartal ke empat yang dilakukan pada tanggal 22 Juli hingga 9 Agustus kemarin, perkiraan permintaan tenaga kerja di bulan Oktober bertambah sebesar 36 ribu pekerja dibandingkan bulan Juli, merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun belakangan ini untuk periode yang sama, terutama untuk permintaan tenaga kerja manufaktur yang merupakan yang terbanyak, memerlukan 17 ribu orang. Kementerian Tenaga Kerja hari Rabu (4/9) menyampaikan, perang dagang antara Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok juga berdampak bagi kembali pulangnya investor Taiwan, tercermin dengan meluaskan kemampuan produksi yang mana ini juga membutuhkan penambahan tenaga kerja.
Kepala Divisi Statistik, Kemenaker, Luo Yi-ling mengatakan, “Alasan utamanya adalah terus merebaknya perang dagang internasinal dan melambannya kebutuhan yang mempengaruhi pergerakan pertumbuhan ekonomi global, tetapi untuk bagian dalam negeri, karena adanya arus kembali pulang investor Taiwan dan seiring dengan meningkatnya penjualan produk elektronik serta berkembangnya aplikasi teknologi, ditambah unsur dalam negeri seperti subsidi wisata domestik yang meningkatkan kesediaan konsumen dan lainnya, saat ini bisnis usaha membutuhkan penambahan tenaga kerja.”
Luo Yi-ling juga mengemukakan, sehubungan dengan liburan musim panas baru saja berlalu, kebutuhan tenaga kerja di bidang jasa layanan penginapan dan makanan mengalami penurunan. Dilihat secara keseluruhan, iklim ekonomi tergolong stabil, usaha bisnis juga konservatif, tetapi masih bertahan pada gelombang pergerakan tertentu.