(Taiwan, ROC) – Dosen jurusan Departemen Geografi National Taiwan University Jian Xu-shen pada hari Rabu tanggal 7 Agustus menyampaikan bahwa takkala seluruh dunia tengah mempersiapkan antisipasi terkait perubahan cuaca global, telah muncul sebuah ideologi baru yang berupa “Domestikasi Cuaca”. Di dalam dunia internasional, sedikit banyak pasti ada negara yang menggunakan teknologi kecerdasan artisial atau AI dalam mengatasi masalah perubahan cuaca, yang mana mayoritas lebih banyak digunakan oleh pihak swasta saat menggelar kegiatan usaha. Namun pihak Daratan Tiongkok telah menggunakan sumber instansi negara secara penuh dalam pengembangannya, dan membentuk instansi bertajuk “Kantor intervensi AI terhadap cuaca”, yang mana bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang bersifat permanen dan normalisasi.
Jian Xu-shen mengambil contoh jika saat ini pihak Daratan Tiongkok saat menggelar kegiatan berskala besar yang mengharuskan kondisi cerah, khususnya pada saat penyelenggaraan upacara pembukaan pesta olahraga sedunia, Olimpiade 2008 di Beijing, berhasil mencapai target bahwa pada saat malam penyelenggaraan tidak turun hujan. Selain contoh tersebut, intelegensi artifisial yang digunakan untuk mempengaruhi cuaca juga dipraktekkan dalam metode pengamanan makanan, habitat lingkungan dan air.
Namun seberapa jauh teknologi AI dapat digunakan untuk pengontrolan cuaca, masih belum dapat diprediksi lebih banyak, misalnya masih belum mampu memastikan seberapa banyak air hujan yang akan turun, dimana lokasi hujan akan terjadi. Oleh sebab itu pada tahun 2018, pihak India sempat menyampaikan protes kepada Daratan Tiongkok, yang dengan sengaja memperbanyak prosentase turunnya hujan, sehingga menyebabkan banjir di kawasan India. Sementara itu, Iran juga sempat menyampaikan protes kepada Israel, yang memperbanyak proses turunnya hujan, sehingga menyebabkan Iran kekurangan air hujan. Semua hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu memperbanyak turunnya air hujan, bahkan hujan salju. Jika kondisi tersebut menyebabkan adanya kematian, maka tentu akan mempengaruhi masalah moral manusia.
Jian Xu-shen beranggapan bahwa persaingan perpolitikan dunia internasional, yang awalnya hanya masih berada di atas permukaan bumi, secara perlahan telah meluas berkembang memasuki persaingan beruang lingkup tiga dimensi. Seluruh dunia perlu memperhatikan masalah moral dan negara berisiko tinggi, yang mana menggunakan alasan untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim, namun secara diam-diam justru melakukan pengontrolan cuaca dengan skala yang lebih luas.