(Taiwan, ROC) – Aksi demonstrasi anti RUU Ekstradisi di Hong Kong masih terus berkecamuk, bahkan semakin meluas. Sejak bulan Juni silam, hampir setiap akhir pekan ada aksi demonstrasi turun ke jalan, dan kerap terjadi benturan antara aparat petugas kepolisian dengan warga setempat yang berskala besar. Meskipun telah berulang kali terjadi bentrokan, namun aksi demosntrasi justru semakin merekah. Pada hari Jumat tanggal 2 Agustus, 3 hari berturut tercatat ada 5 aksi demonstrasi penolakan RUU Ekstradisi, walau hanya satu aksi yang diberikan izin oleh pemerintah setempat.
Pada hari Jumat tanggal 2 Agustus, tercatat ada 2 aksi demonstrasi yang diajukan oleh warga , yang akan dilangsungkan di kawasan Chungwan, namun pengajuan tersebut telah ditolak oleh pihak kepolisian. Sementara pada tanggal 3 Agustus ada pengajuan aksi demonstrasi di kawasan Wongkok dan tanggal 4 Agustus diisukan ada aksi demonstrasi turun ke jalan di kawasan West Island dan Junk Bay. Hanya aksi demonstrasi di kawasan Junk Bay yang mendapatkan izin, dan yang lainnya ditolak oleh pihak kepolisian.
Di masa lampau, perizinan aksi demonstrasi di Hong Kong lebih longgar dibandingkan saat ini, namun kini justru semakin memicu aksi yang berskala lebih besar lagi. Setelah pada tanggal 21 Juli terjadi tragedy Yuen Long, yang mana ada komplotan orang berbaju putih yang melakukan tindakan kekerasan terhadap warga yang ada di kawasan Yuen Long, pihak kepolisian mengutus aparatnya untuk menghalangi berbagai kemungkinan yang terjadi, namun aksi demonstrasi pada tanggal 27 dan 28 Juli akhirnya terjadi dan semakin sengit.
Pada tanggal 28 Juli, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga di kawasan Hong Kong Island, berakhir dengan perseturuan antara aparat kepolisian dengan massa, dan 40 orang yang ditangkap dalam aksi tersebut, segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Setelah itu, demonstrasi nyaris terjadi hampir setiap hari.
Aksi demosntrasi dilakukan secara bebas, dan dari berbagai golongan. Untuk tanggal 2 Agustus sore hari, aksi demonstrasi turun ke jalan diikuti oleh para pekerja di bidang medis dan kedokteran, di kawasan Wongkok, yang mana menyerukan bahwa aparat kepolisian telah bertindak semena-mena dan menyebutkan akan melakukan aksi mogok skala besar pada hari Senin tanggal 5 Agustus mendatang. Hal ini tentu saja telah ditolak oleh pihak kepolisian.
Sementara pada tanggal yang sama waktu malam, aksi demonstrasi digelar dan diikuti oleh para pegawai negeri. Pihak pengusung aksi demonstrasi berharap semua pihak dapat duduk bersama dan mendiskusikan kondisi Hong Kong, menggunakan jalur musyawarah guna mencapai mufakat.