(Taiwan, ROC) – Kementrian Pendidikan pada hari Kamis tanggal 25 Juli membentuk Pusat Pendidikan Mandarin Taiwan, yang mana merupakan hasil kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di kedepannya pusat pendidikan ini akan memberikan pelayanan informasi terkait melanjutkan pendidikan di Taiwan, dan juga menggelar serangkaian kegiatan interaksi pertukaran bidang pendidikan.
Kepala Bidang Pendidikan TETO, Ou Shu-fen saat diwawancarai menyampaikan bahwa pusat pendidikan Taiwan ini akan dikelola langsung oleh Albert Norman Pujimori, mendorong berbagai bentuk pendidikan tingkat menengah ke atas, pendidikan bahasa Mandarin, memperluas tugas promosi pendidikan di Taiwan dan melakukan perekrutan siswa dan pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya guru Mandarin yang berkualitas.
Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Gunawan Budiyanto juga mengapresiasi dibentuknya pusat pendidikan Taiwan. Gunawan Budiyanto menyebutkan bahwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sendiri juga telah menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa universitas di Taiwan untuk jangka waktu yang cukup lama. Para mahasiswa yang ada, kelak dapat segera mendapatkan pelayanan informasi pertama langsung dari pusat pendidikan tersebut, dan dirinya berharap akan ada lebih banyak lagi interaksi pertukaran pendidikan, dan mampu menjadikan pusat pendidikan tersebut sebagai pusat pendidikan internasional seluruh Jawa.
Kepala TETO, John Chen juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. John Chen menjelaskan bahwa pusat pendidikan yang dibentuk di Yogyakarta ini, akan lebih berpusat kepada pendidikan tingkat menengah ke atas, menggelar pendidikan bahasa Mandarin di kawasan pulau Jawa, membantu sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dalam membuka mata pelajaran Mandarin, memperluas perekrutan siswa untuk dapat melanjutkan pendidikan di Taiwan, serta menjalin hubungan interaksi pertukaran antar sekolah.
Dalam upacara peresmian pembentukan pusat pendidikan Taiwan tersebut, Ou Shu-fen bersama Gunawan Budiyanto bersama-sama menandatangani MoU perjanjian kerjasama pertukaran pendidikan.
Ou Shu-fen menjelaskan bahwa beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia sendiri tengah maraknya pendidikan bahasa Mandarin, namun karena keterbatasan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan Mandarin, maka pusat pendidikan Taiwan ini dapat turut memberikan bantuan bimbingan pelatihan guru Mandarin yang berkualitas, selain itu juga akan mengupayakan pertukaran guru Mandarin dari Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Taiwan, sehingga target jangka panjang yakni menciptakan lingkungan yang ramah dalam belajar bahasa Mandarin juga dapat tercapai.
Pihak TETO menjelaskan bahwa untuk tahun 2018, jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Taiwan terdapat sebanyak 11.812 siswa, dan menjadi negara ke empat terbesar sebagai negara asal pelajar di Taiwan.