(Taiwan, ROC) – Aksi demonstrasi terkait penolakan RUU Ektradisi di Hong Kong masih saja terus berlanjut. Mantan Sekjen NATO, Anders Fogh Rasmussen menulis sebuah artikel di media The Guardian Inggris, yang menyebutkan jika melihat aksi demo yang terjadi di Hong Kong menunjukkan bahwa Daratan Tiongkok tidak dapat menyatu dengan asas demokrasi. Untuk itu ia mengimbau para petinggi negara Uni Eropa untuk tidak terlampau memprioritaskan penyambutan bagi pihak Daratan Tiongkok, melindungi sistem demokrasi yang ada di Taiwan, menggelar pertemuan dengan pemimpin Taiwan, melanjutkan hubungan kerjasama dan investasi. Presiden Tsai Ing-wen yang kini tengah melakukan kunjungan ke negara sahabat Saint Lucia, saat menerima wawancara dari pihak media pada tanggal 17 Juli sore waktu setempat, tidak lupa untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Anders Fogh Rasmussen atas dukungannya kepada Taiwan.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Kami tentu sangat berharap seluruh sahabat di dunia internasional memberikan perhatian kepada Taiwan, mempedulikan hak kebebasan dan demokrasi Taiwan, dan terus membantu kami untuk menyuarakannya, kami merasa sangat berterima kasih. Saya yakin dan percaya, kelak akan lebih banyak lagi orang yang mempedulikan perkembangan demokrasi Taiwan, termasuk juga hak dalam memilih jalan hidup serta masa depan yang akan dilalui.”
Media The Guardian Inggris, pada tanggal 16 Juli menayangkan surat artikel yang dikirimkan oleh Anders Fogh Rasmussen, mantan Sekjen NATO, yang juga adalah mantan Perdana Menteri Denmark, dengan tajuk “Hong Kong (saat ini) menunjukkan Daratan Tiongkok adalah ancaman struktural asas demokrasi, kini Uni Eropa seharusnya melindungi Taiwan”. Dalam artikelnya, Anders Fogh Rasmussen menyampaikan bahwa pihak Beijing tengah melakukan penindasan terhadap negara demokrasi, maka Uni Eropa tidak lagi harus demi menjaga stabilitas dan keuangan, lantas melupakan sikap Otoritarianisme, dan sudah seharusnya memberikan perlindungan kepada Taiwan. Ia mengusulkan pimpinan baru Uni Eropa dapat memperjuangkan demokrasi, menggelar pertemuan dengan para pemimpin Taiwan sebagai sebuah langkah awal, kemudian mengembangkan hubungan perdagangan dan investasi, serta tidak lagi bersikap diam dalam menghadapi sikap penyerangan yang dilakukan oleh pihak Daratan Tiongkok.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan bahwa dirinya berharap agar masyarakat dalam negeri dapat benar-benar menjaga demokrasi dan kebebasan yang dimiliki oleh Taiwan, mewariskan ke dua hal tersebut hingga ke generasi selanjutnya, yang mana semua ini adalah tanggung jawab kita semua.