(Taiwan, ROC) Tahun 1997 epidemi penyakit kuku dan mulut melanda peternakan babi di Taiwan secara serius, kerugian negara mencapai lebih dari 170 milyar dolar Taiwan, tidak lagi dapat mengembalikan pesanan daging babi yang diekspor ke Jepang senilai 60 milyar dolar Taiwan, merugikan peternak babi tak terhingga jumlahnya. Melalui upaya yang berjalan selama 22 tahun 3 bulan 2 hari, peternakan babi di Taiwan, Penghu, Matsu pada tahun lalu bulan Juli tidak lagi memberikan suntik vaksin penyakit kuku dan mulut pada ternaknya, sejauh ini sudah tidak ada antibodi dalam tubuh ternak, melalui pemantauan NSP lingkungan telah bebas dari virus penyakit kuku dan mulut, Ketua Dewan Pertanian (COA) Chen Chi-chung pada hari Senin ini (1/7) mengumumkan, kesuksesan penghentian pemberian vaksin untuk kawasan Taiwan, Penghu dan Matsu, sementara untuk Kinmen dikarenakan masih ada kasus sapi mengidap penyakit kuku dan mulut maka tetap memberikan suntik vaksin area non-epidemi.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, COA sebelum bulan September mendatang akan mengajukan permohonan kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), jika segalanya berjalan dengan lancar, maka pada bulan Mei tahun mendatang Taiwan, Penghu dan Matzu secara resmi menjadi kawasan terlepas dari area epidemi penyakit kuku dan mulut.
Wakil Ketua COA Huang Chin-cheng(黃金城) mengatakan, “Maka sebelum bulan September pihak kami akan mengajukan permohonan kepada OIE, kemudian hingga di bulan Mei tahun depan, ia akan menyampaikan dalam sidang OIE bahwa Taiwan, termasuk Penghu, Matsu bukan kawasan non-epidemi penyakit kuku dan mulut.”
Chen Chi-chung (陳吉仲) mengatakan, cara penularan dari epidemi penyakit kuku dan mulut, radius penyebaran dibandingkan dengan Asfivirus lebih luas, oleh karena epidemi flu babi Afrika di Daratan Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara serta epidemi penyakit kuku dan mulut sangat serius, maka setelah berhasil penghentikan pemberian suntik vaksin penyakit kuku dan mulut, baru memulai upaya pencegahan epidemi secara nyata, selanjutnya akan saling bekerjasama menanggulangi wabah flu babi Afrika.
Setelah terlepas dari area penyakit kuku dan mulut, daging babi ternak produksi Taiwan mulai dapat dipasarkan. Chen Chi-chung mengatakan, dikarenakan negara-negara sekitar juga menghadapi wabag penyakit kuku dn mulut, flu babi Afrika cukup serius, sehingga harga daging babi internasional naik, sementara kebutuhan domestik Taiwan terhadap daging babi bergantung 5%-10% impor, diupayakan memenuhi kebutuhan domestik baru dipasarkan ke luar negeri, selain itu masih perlu penanganan kotoran ternak dengan baik, pembangkit listrik biogas, daur ulang dan sebagainya yang akan menjadi pembahasan dengan Direktorat Perlindungan Lingkungan, sementara ini pemerintah telah melakukan pembahasan tentang peghentian pemberian suntik vaksin penyakit kuku dan mulut, ekspor daging babi Taiwan dengan beberapa negara yang melakukan kerjasama perdagangan.