(Taiwan, ROC) – Di tengah-tengah kesederhanaan pasar tradisional, sebenarnya banyak menyimpan kisah yang luar biasa. Merujuk kepada hasil penjajakan yang dilakukan oleh DGBAS, menunjukkan bahwa kekuatan perekonomian yang dicapai oleh para pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan atau pasar tradisional, tidak dapat disepelekan. Pemasukan tahunan lebih dari satu jutaan dollar Taiwan adalah sebuah garis minimal yang biasanya menjadi patokan para pelaku usaha kelas kecil dan menengah ini, yang mana di antaranya memiliki pemasukan terbesar adalah penjual daging, meskipun tetap ada perbedaan di antara sesama penjual kaki lima. Sementara untuk pedagang makanan, kini telah memasuki level merah, yang artinya para pelaku yang baru hanya mampu menyelip di antara para penjual lainnya dan mencoba untuk bertahan hidup.
Merujuk kepada hasil penelitian yang dilakukan oleh DGBAS untuk tahun 2018, di tengah-tengah hiruk pikuk dan keringat menetes di dalam pasar sayur mayur, tersembunyi orang kaya, khususnya para pedagang daging segar, dengan rata-rata nilai indeks jual beli tahunan mampu mencapai angka sebesar NT$ 3.799.000 per kios atau kedai. Sementara untuk pedagang lainnya, usai dikurangi dengan biaya sewa dan pengeluaran tetap lainnya, setiap tahunnya mampu menghasilkan keuntungan sebesar NT$ 853 ribu per kios atau kedai, jika dibandingkan dengan pedagang buah-buahan segar yang bertengger di urutan ke dua tertinggi, masih berselisih lebih dari NT$ 200 ribu.
Pejabat dari DGBAS menjelaskan bahwa keuntungan yang didapatkan oleh pedagang daging segar, jauh lebih menguntungkan dikarenakan pada umumnya jumlah transaksi lebih besar dan nilai satuan yang lebih tinggi dibandingkan produk lainnya. Seorang ibu rumah tangga, jika harus membelanjakan uangnya untuk kebutuhan dapur dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang, maka untuk makan malam biasanya akan menyajikan kuah baikut, atau sup daging atau sup ayam, dan biaya yang dibutuhkan untuk penyajian menu tersebut minimal NT$ 200 ke atas. Jika dibandingkan dengan tumis sayur, maka biasanya hanya membutuhkan uang belanja sekitar NT$ 10 an saja, sehingga para pedagang daging di pasar tradisional bisa mendapatkan pemasukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pedagang produk lainnya.
Merujuk kepada pernyataan dari pegawai di salah satu perbankan swasta yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan bahwa biasanya pedagang daging segar hanya akan berkecimpung dengan daging saja, dan jika dibandingkan dengan pegawai kantoran, tentu kurang sedap dipandang, atau boleh dikatakan kurang unggul jika dibandingkan dengan para pekerja dalam kantor. Tetapi jumlah pemasukan yang didapatkan oleh para pedagang daging, jauh lebih besar dibandingkan dengan pegawai kantoran, bahkan tidak sedikit yang naik mobil mewah sekelas Mercedes benz.
Jika membandingkan antara penjual daging dengan penjual sayur, maka nasib penjual sayur akan lebih menyedihkan. Merujuk kepada data penelitian yang dirilis oleh DGBAS, pada tahun 2018, jumlah perdagangan kedai sayur tahunan pada tahun 2018, mencapai angka NT$ 2.248.000, namun jika dipotong dengan biaya pengeluaran tetap dan lainnya, maka jumlah pemasukan sangat tergolong tipis, dengan rata-rata tahunan mencapai NT$ 570 ribu per kios atau kedai, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pedagang buah atau pakaian jadi.
Pihak pejabat DGBAS menjelaskan bahwa menipisnya keuntungan yang bisa didapatkan oleh pedagang sayur, dikarenakan adanya kemungkinan kerugian karena produk sayur yang mudah rusak, khususnya saat proses pengiriman dari lahan tanam hingga ke tangan konsumen, banyak terjadi kerusakan dan menyebabkan harga ikut menurun. Terkadang harga turun drastis karena kondisi sayur yang kurang baik, dan acap kali menyebabkan konsumen tidak tertarik untuk membelinya. Semua hal ini secara tidak langsung juga harus turut dimasukkan dalam kategori modal pedagang tak terlihat.
Dalam laporan DGBAS, disebutkan bahwa pada akhir bulan Agustus 2018, jumlah total kios atau kedai di seluruh Taiwan berjumlah 307 ribu, di antaranya terdiri dari 164 ribu kedai makanan, yang mencapai sebanyak 50% dari jumlah total kedai yang ada. Yang patut diperhatikan adalah, jumlah kedai makanan berkurang sebanyak 3,44%, dan jika melirik kondisi tersebut sejak tahun 1988, ini adalah yang pertama kalinya terjadi penurunan jumlah pedagang makanan di Taiwan. Semua ini diprediksi dikarenakan pasar makanan telah cukup ramai dan memasuki skala merah, sehingga dalam persaingan yang sangat tinggi seperti demikian, maka banyak pedagang makanan yang kurang dapat bertahan, sehingga dengan terpaksa harus mengaku kalah dan menutup kedainya.
Selain maraknya para pesaing yang masuk ke dalam bursa pasar, para pedagang makanan juga harus menghadapi tantangan jualan online yang kini tengah menjadi trend baru, mulai dari pakaian jadi, jasa pelayanan, kain hingga sepatu, bahkan kini telah mulai ada pedagang online untuk produk casing HP, mainan, hiasan pernak Pernik untuk rambut, juga turut meramaikan dunia bisnis online. Para konsumen juga selain lebih mudah mendapatkan barang yang ingin dibelinya, juga bisa segera melakukan perbandingan harga di antara para penjual di gerai online.
Jika melihat kondisi penjualan yang ada di tahun 2018, maka membandingkannya dengan kondisi 5 tahun sebelumnya, pedagang pinggir jalan atau di pasar tradisional mengalami penurunan yang cukup signifikan, dengan jumlah penjualan rata-rata tahunan menurun sebanyak 3,14% untuk produk pakaian jadi, jasa pelayanan, kain dan sepatu, sementara untuk produk lainnya mengalami penurunan sebesar 5,63%.