(Taiwan, ROC) --- Hari ini tanggal 4 Juni 2019, merupakan hari 30 tahun genapnya tragedi 4 Juni. Melalui akun media sosialnya, Presiden Tsai Ing-wen menuliskan beradab nya suatu negara akan tergantung kepada sikap pemerintah dalam memperlakukan masyarakatnya dan bagaimana negara menangani masalah yang terjadi di masa lampau.
Kepala Negara melanjutkan dalam peringatan tragedi4 Juni hari ini, seluruh dunia akan fokus kepada fakta peristiwa hilangnya ribuan nyawa di depan Lapangan Tiananmen dan interfensi Daratan Tiongkok terhadap Hong Kong.
Beliau melanjutkan otoritas Beijing kembali menahan beberapa aktivis yang hendak terbang ke Hong Kong untuk menghadiri upacara peringatan tragedi 4 Juni. Di hadapan komunitas global, Menteri Pertahanan Daratan Tiongkok bahkan menyatakan peristiwa pembantaian dan penindasan dalam tragedi 4 Juni, merupakan keputusan yang tepat. Hal ini menandakan Negeri Tirai Bambu tidak menyesali perbuatan yang telah menelan korban jiwa tersebut dan bahkan berusaha untuk menutupi fakta di baliknya. Presiden Tsai Ing-wen menambahkan sebagai bagian dari negara yang menjunjung tinggi demokrasi, ia percaya pihak manapun tidak menyetujui langkah Daratan Tiongkok.
Presiden Tsai Ing-wen percaya masih banyak peristiwa yang menjadi simbol kian memudarnya prinsip kebebasan di Daratan Tiongkok, misal dengan keputusan kebijakan “1 Negara 2 Sistem” yang disematkan atas Hong Kong, terus mendapatkan intervensi dari Negeri Tirai Bambu. Beliau melanjutkan prinsip demokrasi dan otoritarianisme tidak akan dapat hidup berdampingan dalam 1 negara.
Pada bagian penutup, Presiden Tsai menuliskan dalam peringatan tragedi 4 Juni hari ini, ia ingin menyampaikan semangat kepada seluruh warga Hong Kong dan Daratan Tiongkok. Ia kembali menekankan Taiwan akan tetap menjaga unsur demokrasi dan kebebasan. Selama dirinya menjabat posisi Kepala Negara, Taiwan tidak akan pernah menyerah, walau diserang berbagai tekanan.
Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌) saat ditanya pendapatnya perihal tragedi 4 Juni, mengemukakan fenomena masyarakat luas menuntut kebebasan berdemokrasi merupakan hal yang wajar. Taiwan juga telah melewati era darurat militer di masa pemerintahan Partai Kuomintang. Taiwan hari ini merupakan hasil dan upaya kerja keras, yang patut dijaga dan dihargai.
Su Tseng-chang mengatakan, “30 tahun yang lalu, di Lapangan Tiananmen Beijing, warga setempat memperjuangkan nilai kebebasan dan demokrasi. Namun sayangnya, perjuangan ini harus gagal ketika berhadapan dengan pasukan dan tank militer setempat. Kami sangat menghormati keberanian warga di kala itu. Dan terus berharap, seiring dengan berkembangnya perekonomian, Daratan Tiongkok dapat lebih cepat membuka diri untuk kebebasan dan demokrasi. Di saat yang bersamaan, kami berharap Negeri Tirai Bambu dapat lebih menghargai martabat sesama manusia”.
Su Tseng-chang mengemukakan semenjak 30 tahun lalu, masyarakat Daratan Tiongkok juga telah berupaya keras mengejar demokrasi dan kebebasan. Namun pemerintah setempat dengan kekuatan militernya, terus menekan dan berusaha menggagalkan.