History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Upaya Pemberdayaan Wanita Presiden Tsai: Jangan Memanggilnya Presiden "Wanita"

  • 16 April, 2019
  • 鄭蕙玲
Upaya Pemberdayaan Wanita Presiden Tsai: Jangan Memanggilnya Presiden
Presiden Tsai Ing-wen: tidak akan berhenti mengupayakan pemberdayaan wanita dan berharap mendatang tidak memanggilnya presiden "wanita".

(Taiwan, ROC) Presiden Tsai Ing-wen pada hari Selasa ini (16/4) menghadiri forum pertemuan tingkat tinggi pemberdayaan ekonomi wanita yang diselenggarakan Kerangka Pelatihan dan Kerjasama Global (GCTF)Taiwan-Amerika. Presiden Tsai Ing-wen dalam sambutan menyampaikan, bulan lalu melakukan kunjungan ke Kepulauan Marshall, menghadiri konferensi pertemuan wanita kawasan Pasifik pertama yang membahas pentingnya pengembangan potensi wanita, ia beranggapan perkembangan dunia terus berubah perlu adanya kerjasama demikian untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dunia. 
Presiden Tsai mengemukakan, 3 tahun yang lalu, selama memimpin pemerintahan ini berupaya agar dapat menjalin kerjasama dengan negara yang sependapat, seperti bersama GCTF Amerika bersama memfokus pada upaya pemberdayaan wanita, oleh karena itu diyakini semakin banyak wanita yang ingin mengejar impiannya, negara akan semakin makmur dan semakin meningkatkan kestabilan kawasan regional. Ia juga bertanggung jawab dalam mengemban misi pemberdayaan wanita di Taiwan maupun internasional, mengharapkan di masa depan tidak disebut sebagai presiden "wanita". 
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Saya berkeinginan ingin menekankan upaya Taiwan yang ingin meningkatkan kesetaraan gender, saya sebagai presiden wanita pertama Taiwan, mengemban misi ini menginginkan agar menggalakkan pemberdayaan wanita di Taiwan maupun internasional, saya juga tidak akan berhenti dan mengharapkan agar di masa mendatang masyarakat tidak menyebut saya presiden "Wanita”.”
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, perempuan menjadi andalan ekonomi dan pilar masyarakat, oleh karena itu, harus menciptakan lingkungan kerja yang ramah, kondusif dan mudah diakses oleh perempuan. Sejak dirinya menjabat, pemerintah Taiwan telah berupaya menciptakan lingkungan tempat perempuan dapat tumbuh, berhasil dan mengejar impian mereka, impian demikian yang tidak terbayangkan oleh generasi sebelumnya, bahkan pada bulan lalu di angkatan laut Taiwan muncul wanita kedua yang akan menjadi kapten kapal perang, di masa tradisional sebagian besar didominasi oleh pria kini semakin banyak dikuasai oleh kaum perempuan. Dalam dunia perpolitikan Tawian, anggota legislator dan walikota wanita mencatat 40%; pada tahun laly banyak wanita Taiwan terdaftar Forbes dalam urutan 30 peringkat dunia; Berdasarkan Bank Dunia dengan laporan “Wanita, Bisnis dan Hukum tahun 2019”, Taiwan dengan peringkat pertama Asia memperoleh 91,25 poin, salah satu dari 6 negara di dunia yang menghapus aturan di lapangan kerja yang merugikan kaum perempuan. 
Presiden mengutip penuturan Helen Adams Keller, ia menyampaikan jika hanya sendiri maka hal yang dikerjakan cuman sebegitu banyak; jika dikerjakan secara bergandengan tangan maka mempunyai potensi kuat dan menerobos batasan, maka mengimbau agar semua berupaya dan saling bekerjasama agar dunia ini menjadi tempat yang ramah bagi kaum perempuan.

Komentar

Terbarumore