(Taiwan, ROC) - Menghadapi tantangan dalam perkembangan hubungan antar Selat Taiwan, pemerintah Taiwan selalu berpegang pada sikap tegas, pragmatis dan bertanggung jawab, berusaha menyelesaikan perbedaan pendapat melalui cara damai dan bukan saling bertentangan, bertujuan menjalin hubungan yang seimbang, damai dan stabil.
Sebaliknya, Daratan Tiongkok selalu berusaha mengubah status quo antar Selat, merusak sistem demokrasi di Taiwan, menciptakan ketegangan militer dan memperkecil ruang hidup internasional Taiwan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) pada hari Rabu, 27 Maret, ketika mengikuti suatu konferensi video bersama tank pikir Amerika Serikat The Heritage Foundation, saat transit di Hawaii dalam perjalanan pulang dari kunjungan kenegaraan di negara-negara sahabat di Samudera Pasifik.
Presiden Tsai mengatakan, “Kendati kami telah menampilkan sikap bermuhibah, Tiongkok tetap berusaha mengubah kondisi antar Selat Taiwan saat ini, merusak sistem demokrasi di Taiwan, menciptakan ketegangan militer dan memperkecil ruang hidup internasional Taiwan. Semua ini membuat masyarakat Taiwan tidak lagi mampu mempercayai Tiongkok, juga mendatangkan lebih banyak tantangan bagi perkembangan hubungan antar Selat Taiwan di masa depan. Tindakan Tiongkok membuat Taiwan lebih-lebih harus memperkuat daya pertahanan nasional.”
Ditanya tentang “satu negara, dua sistem” yang diberlakukan di Hong Kong, Tsai mengetengahkan, contoh di Hong Kong membuktikan “Konsensus 1992” telah berubah menjadi “satu negara, dua sistem,” dan cepat atau lambat “satu negara dua sistem” juga akan berubah menjadi hanya “satu negara.”
Pengalaman di Hong Kong memberitahukan kita bahwa “dua sistem” sama sekali tidak dihormati, maka tidak akan diterima oleh mayoritas warga Taiwan, tegas Tsai.
Konferensi video yang dipimpin oleh Ketua The Heritage Foundation Kay Coles James tersebut juga diikuti oleh sejumlah petinggi pemerintah Amerika Serikat, antara lain Ketua Tim Asia Pasifik di bawah Komisi Luar Negeri Senat Cory Gardner, anggota Kongres Ted Yoho dan pendiri The Heritage Foundation Edwin Feulner.