(Taiwan, ROC) Mantan Perdana Menteri Lai Ching-de pada hari Senin ini (18/3) menuju ke markas besar partai Demokrat Progresif untuk mencalonkan diri dalam pemilu presiden mendatang. Lai mengatakan, sangat cinta kepada tanah air ini, maka wajib berani maju demi membela Taiwan, memutuskan untuk menanggapi panggilan dari ketua kehormatan partai, serta menanggapi harapan dari masyarakat maka mencalonkan diri dalam pemilu, mengharapkan banyak kekuatan yang dapat mendukungnya.
Presiden Tsai Ing-wen juga mencalonkan diri untuk terpilih kembali maka ada 2 kekuatan terpisah dalam satu partai, dalam hal ini Lai Ching-de beranggapan, melalui prosedur demokrasi akan semakin mempersatukan partai DPP, Ia juga telah melaporkan kepada Sekjen Istana Kepresidenan Chen Chu bahwa pencalonan ini bukan semata-mata demi kepentingan pribadi namun untuk menanggapi kekuatiran masyarakat.
Lai Ching-de mengatakan, diamati dengan jeli pemilu tahun 2020, kondisi DPP lebih krisis dibandingkan dengan pemilu tahun 2008, hal yang dikuatirkan oleh masyarakat jika kalah dalam pemilu, kursi legislator berkurang, maka DPP selain kehilangan kekuatan politik, maka tantangan dan resiko krisis demokrasi dan berdaulat semakin besar.
Lai Ching-de mengatakan, dalam pemilu 9 in 1, partai DPP mengalami kekalahan, maka ia mengajukan pengunduran diri dan kembali mengakar dengan masyarakat Tainan, aktif dalam pemilihan ulang dan alhasil dapat mempertahankan kawasan dasar, namun merasakan masa sulit yang dialami partai DPP, ditambah lagi 5-point proposal yang diusung oleh Kepala Negara Daratan Tiongkok Xi Jing-ping , selain aktif reunifikasi Taiwan, juga menyerukan konsensus 92 kepada dunia luar berpegang pada konsep Satu Tiongkok dan memaksa agar Taiwan menerima Satu Negara Dua Sistem, kondisi yang dialami Taiwan kritis, sementara yang diperjuangkan partai KMT mengupayakan perjanjian kerjasama yang damai.
Lai Ching-de mengatakan, Taiwan adalah negara yang berdaulat, independen dan akan berlanjut dengan dengan kehidupan masyarakat yang demokratis, tidak akan menjadi Hongkong atau Tibet kedua, maka pemilu tahun 2020 sangat penting. Karena cinta tanah air ini, maka wajib berani membela Taiwan dan memutuskan menanggapi panggilan dari ketua kehormatan DPP serta harapan masyarakat untuk mencalonkan diri dalam pemilu 2020..
Lai Ching-de mengatakan, “cinta dan rela berkorban demi tanah air ini, saya sendiri berpandangan semestinya membela Taiwan, bertanggung jawab untuk Taiwan, memutuskan untuk memenuhi panggilan dari Ketua Kehormatan partai DPP Cho Jung-tai, juga menanggapi harapan dari masyarakat, mendaftarkan diri dalam pemilihan awal dalam partai, serta menghimpun dukungan agar semakin kuat.”
Keikutsertaan Lai Ching-de dalam pemilu apakah akan menciptakan perpecahan internal partai berkuasa di bawah pemerintahan Presiden Tsai? Lai Ching-de merespon, ini merupakan beban tanggung jawab, DPP adalah partai DPP, ia berharap melalui prosedur yang demokratis, memasukki tahap persaingan yang adil, ia yakin ini tidak akan menjadi krisis bagi persatuan.
Mengenai Lai Ching-de pernah mengemukakan pemberian grasi pada mantan Presiden Chen Shui-bian yang dikaitkan dengan hal ini. Lai Ching-de mengatakan, “Grasi Chen Shui-bian” adalah ide pada masa ia menjabat sebagai Walikota Tainan dan perdana menteri, ia juga secara terbuka mengucapkan terima kasih dan merasa yakin akan sumbangsih Chen Shui-bian pada pemilu tambahan legislator Tainan.
Ditemani oleh mantan Kepala Rumah Sakit Cheng Kung, Chen Zhi-hong, yang juga sepakat dan menjunjung Presiden Tsai Ing-wen, tetapi dalam lingkungan masa depan yang memburuk, DPP harus memiliki seorang “Raja Rimba” membawa pasukan rimba legislator untuk meraih kemenangan, ini bukan hanya untuk DPP melainkan untuk generasi seterusnya Taiwan.
Pencalonan diri dalam pemilihan presiden awal dalam partai berlangsung tanggal 18–22 Maret, diperkirakan tanggal 17 April mendatang sudah dapat dipastikan nominasi calon, seiring dengan itu Lai Ching-de telah terjun dalam pertarungan, dengan resmi turut dalam persaingan pemilihan presiden 2020 dalam internal partainya.