(Taiwan, ROC) Kapal nelayan Tungkang Wen Peng saat berlayar di perairan Mauritis mengalami kejadian pembunuhan, menewaskan 1 orang 7 orang hilang, pihak Ditjen Penjaga Pantai mengutus kapal patroli Hsun Hu nomor 8 menempuh jarak 7000 km pada awal bulan Maret berhasil menangkap pelaku pembunuhan berkewarganegaraan Filipina, pada hari Senin ini (18/3) tiba di Kaoshiung dan dibawa ke Kejaksaan Pingtung untuk diadili, upaya penyelamatan di samudra Hindia berhasil.
Pada hari Senin ini (18/3) Ditjen Penjaga Pantai membuka konferensi pers untuk kejadian pembunuhan di atas kapal nelayan Wen Peng, guna memberikan keterangan tentang kondisi kejadian, dan upaya penyelamatan dijelaskan oleh tim operasi khusus penyelamat. Wakil PM Chen Chi-mai turut menghadiri untuk mengapresiasi upaya keras dari pihak yang terlibat.
Usai kejadian pada tanggal 20 Februari, pada tanggal 21 Februari Ditjen Penjaga Pantai segera mengutus kapal patroli untuk memberikan pertolongan, berlayar menempuh 7000 km ke samudra Hindia, selain itu juga mengutus tim operasi khusus 4 orang pada tanggal 23 Februari naik pesawat menuju Sri Langka kemudian naik kapal nelayan menuju ke lokasi.
Ketua Bagian Investigasi Ditjen Penjaga Pantai Chang Chung-lung (張忠龍) mengatakan, tim operasi khusus pada tangal 2 Maret berhasil melumpuhkan pelaku pembunuhan berkewarganegaraan Filipina, menguasai kapal nelayan Wen Peng, pada tanggal 3 Maret pelaku ditahan dan dikurung dalam kapal patroli Hsun Hu nomor 8, kapal patroli Hsun Hu nomor 8 berlayar selama 26 hari dengan total perjalanan pp 14000 kilometer, pada pagi hari ini mendarat di pelabuhan Kaoshiung terminal patroli laut V, operasi penyelamatan di Samudra Hindia telah berhasil. Pelaku pembunuhan dikawal oleh tim operasi khusus untuk diadili di Kejaksaan Pingtung.
Chen Chi-mai mengatakan, pemerintahan mengupayakan melindungi nelayan dan memberikan keamanan dan lingkungan kerja yang terjamin, terlebih-lebih untuk keselamatan dalam bekerja akan lebih diupayakan. Nelayan bekerja di laut sangat melelahkan, mempertaruhkan nyawa di laut mencari nafkah hidup, maka memberikan perlindungan bagi nelayan menjadi tugas dan tanggung jawab bagi pemerintah.
Wakil Perdana Menteri Chen Chi-mai (陳其邁) memberikan apresiasi atas upaya keras dari tim kerja, ini merupakan buah hasil kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Selain menyerahkan uang hadiah kepada tim penyelamat, juga menyerahkan piagam dan cinderamata kepada pemilik kapal kapal Shang Feng nomor 3, Chau Feng nomor 277 dan Hung Fu nomor 88.
Kapal penangkap ikan skala besar Wen Peng berawak kapal 24 orang, pada tanggal 20 Februari subuh hari terjadi kejadian pembunuhan, salah seorang awak kapal asal Filipina bertengkar dengan nelayan lainnya, kejadian ini membuat pelaku emosi dan membacok 2 nelayan asal Filipina hingga tewas, memaksa awak kapal lainnya lompat ke laut yang mengakibatkan 1 ABk Filipina dan 5 ABK Indonesia hilang. Di atas kapal masih ada 3 orang awak kapal Taiwan, 6 ABK Filipina dan 6 ABK Indonesia pada tangal 22 Februari ditolong oleh kapal nelayan HungFu nomor 88 dan Shang Feng nomor 3 sehingga di atas kapal hanya tertinggal di pelaku. 2 ABK Indonesia dengan kondisi luka parah pada tanggal 2 Maret dilarikan ke rumah sakit di Sri Langka.
Pada tanggal 3 Maret 2019 kapal patroli Hsun Hu Nomor 8 tiba di lokasi kejadian dan menyelamatkan awak kapal lainnya di kapal Hung Fu nomor 88 dan Shang Feng Nomor 3, sementara pelaku dikurung di sel kapal patroli, pada hari ini tiba di pelabuhan Kaoshiung terminal V, oleh petugas operasi khusus yang akan membawa pelaku ke Kejaksaan Pingtung untuk penyelidikan lebih lanjut, sementara dikarenakan kapal Wen Peng berjalan lebih lamban diprakirakan pada tanggal 31 Maret 2019 tiba di pelabuhan Kaoshiung.