(Taiwan, ROC) – Pihak DGBAS pada hari Jumat tanggal 8 Maret mengumumkan indeks harga konsumen atau CPI untuk bulan Februari, naik sebanyak 0,23%. Jika dikurangi dengan jumlah indeks untuk sayur dan buah, serta sumber energi, yang mana angka ini juga disebuat sebagai CPI inti, maka kenaikan mencapai 0,3%, dimana merupakan indeks CPI terendah dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Meskipun pihak DGBAS menilai jika kondisi harga barang saat ini masih relatif hangat dan cukup stabil, namun masyarakat umum sangat merasakan adanya kenaikan harga yang cukup signifikan, khususnya untuk produk telur dan kertas tisu. Untuk produk telur, kenaikan mencapai 20-30%, sementara untuk kerta tisu naik sebesar 10-20%, sementara harga kecap di pasaran naik sebesar 7,43%.
DGBAS menganalisa jika harga telur yang naik dikarenakan pada tahun lalu sempat tersebar isu rumor adanya kandungan dioksin dan fipronil yang melewati batas standar kesehatan, sehingga produk telur mengalami kenaikan harga hingga mencapai 30-40%. Namun kini, kondisi tersebut telah berangsur pulih kembali normal, harga juga terlihat mulai menurun. Sementara untuk masalah bencana banjir pada 23 Agustus tahun lalu, yang turut menyebabkan lebih dari 1,3 juta ayam petelur mati, turut memberikan dampak pengaruh terhadap jumlah produksi telur yang dapat disediakan di pasar.
Penganalisa DGBAS, Hsu Jian-chung mengatakan, “Masih ditambah lagi dengan kondisi musim dingin dan juga bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek, maka otomatis jumlah kebutuhan telur juga ikut meningkat, sehingga jumlah pasokan tidak mampu memenuhi jumlah permintaan pasar. Dalam kondisi seperti demikian, dimana jumlah kebutuhan lebih besar dibandingkan dengan jumlah produksi, maka harga telur jelas akan mengalami kenaikan.”
Hsu Jian-chung menyebutkan bahwa Dewan Pertanian juga telah menginfokan jika ke depannya akan berupaya menstabilkan jumlah produksi dan pemasaran, diperkirakan harga telur juga akan kembali normal pada bulan Maret ini.