(Taiwan, ROC) – Presiden Tsai Ing-wen pada hari Rabu tanggal 27 Februari di Istana Kepresidenan saat menerima kunjungan “Rombongan Balik Kampung Keluarga Korban 228 dari Luar Negeri” menyampaikan bahwa peristiwa 228 hingga saat ini telah berlalu selama 72 tahun, dan untuk jangka waktu yang cukup panjang, masyarakat dilarang membahas mengenai masalah peristiwa 228, sehingga sulit untuk bisa mendalami kebenaran akan sejarah yang terjadi. Semua berlangsung hingga mulai diberlakukannya asas demokrasi, pemerintah barulah menyampaikan permintaan maaf, membangun monumen peringatan, melakukan penelitian penyelidikan akan kebenaran sejarah dan memberikan kompensasi ganti rugi bagi keluarga korban, serta melakukan berbagai hal untuk mengembalikan nama baik para korban. Namun Presiden Tsai Ing-wen mengetahui secara jelas bahwa dalam menemukan kebenaran sejarah serta mencari keadilan, tentu tidak pernah akan pernah berhenti, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang lebih banyak akan hal ini.
Presiden Tsai Ing-wen menjelaskan bahwa reformasi keadilan telah berjalan selama 2 tahun, dan pemerintah saat ini lebih gigih dibandingkan sebelumnya, dan boleh dikatakan berhasil mendobrak langkah kemajuan baru. Pertama, dalam hal masalah hukum, telah berhasil meloloskan peraturan pendukung reformasi keadilan, dimana ke depannya lima mata tugs penting akan memiliki rujukan undang-undang yang jelas dalam proses reformasi keadilan. Dalam hal penstrukturan, Dewan Reformasi Keadilan telah mulai menjalankan tugsnya sejak tahun lalu, meskipun dalam prosesnya menemukan berbagai kendala dan tantangan, namun tetap gigih dan jujur dalam menghadapi berbagai masalah yang ada serta berupaya memperbaiki langkah-langkah yang diambil. Selain itu, Yayasan Peringatan 228 terus akan menggali berbagai korban tragedi 228 yang sebelumnya tidak pernah ditemukan, serta diperkirakan akan memberikan laporan yang lengkap pada tahun ini. Museum Hak Asasi Manusia yang diusung oleh Kementrian Kebudayaan juga telah beroperasi untuk umum pada tahun lalu, sehingga masayarakat umum bisa memiliki lebih banyak kesempatan untuk memahami dan mengetahui kebenaran peristiwa tragedi yang terjadi serta tugas reformasi keadilan yang tengah dijalankan.
Presiden Tsai Ing-wen menegaskan bahwa langkah pemerintah tidak pernah akan terhenti begitu saja, kelak di kedepannya akan menjalin kolaborasi dengan organisasi atau instansi lainnya, guna benar-benar dapat mewujudkan tugas reformasi keadilan.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Akan terus melakukan klarifikasi kebenaran, melanjutkan tugas penelitian, akan terus melanjutkan penataan pendidikan. Kita tidak boleh melupakan setiap tahapan, dan tidak akan pernah menghentikan tugas terkait. Berbagai organisasi dan instansi yang ada, juga akan menjalin kerjasama, mempererat interaksi komunikasi, meningkatkan energi semangat semaksimalnya. Kita ingin meningkatkan diskusi lintas kementrian dan instansi, bersama mengimplementasikan reformasi keadilan.”
Presiden Tsai menyebutkan bahwa tugas reformasi keadilan harus dapat tercapai, dan pemerintah tentu akan terus mengupayakannya. Dirinya berharap keluarga korban peristiwa tragedi 228 dapat turut memberikan pendapat dan melakukan diskusi komunikasi, bersama menyelesaikan tugas reformasi yang tengah dijalankan.