History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Kasus Pembunuhan Sesama ABK di Kapal Wenpeng

  • 22 February, 2019
  • 譚雲福
Kasus Pembunuhan Sesama ABK di Kapal Wenpeng
Kasus Pembunuhan Sesama ABK di Kapal Wenpeng

(Taiwan, ROC) – Kapal penangkap ikan tuna Wenpeng yang berasal dari Donggang Pingtung, saat berlayar menuju Samudera Hindia, terjadi pertikaian berdarah antar sesama ABK. 4 petugas dari Badan Patroli Lepas Pantai atau CGA bersama dengan petugas dari Dirjen Perikanan diprediksi akan bertolak menuju Maldives kemudian ke lokasi kejadian. Selain itu Kapal Patrol No 8 telah berlayar menuju lokasi pada tanggal 21 Februari kemarin, yang mana membutuhkan waktu layar sekitar 13 hingga 15 hari tanpa berhenti di pelabuhan apapun, guna memberikan pertolongan di tengah laut.

Kapal Wenpeng pada hari Rabu tanggal 20 Februari pukul 2 dini hari, saat berlayar di bagian timur laut Mauritius, ada seorang ABK asal Filipina yang membunuh rekan sesamanya di atas kapal, yaitu ABK asal Filipina dan Indonesia, selain itu juga menyebabkan beberapa ABK lainnya juga terluka. Untuk menghindarkan diri menjadi korban sasaran berikutnya, 10 ABK terpaksa melompat ke laut, sementara 3 awak kapal berkewarganegaraan Taiwan, antara lain kapten kapal Chen Jeng-mao, kepala mesin kapal Kao Hsin-guang dan satu petugas pengamat Yang Wen-bing, beserta 3 ABK lainnya terpaksa mengunci diri dan berlindung di dalam ruang kendali. Tanggal 21 Februari sore hari akhirnya lompat ke laut dan berhasil diselamatkan.

CGA mengutus kapal Patrol no 8 beserta 4 petugas yang dilengkapi dengan senjata, dan mulai berlayar dari Kaoshiung menuju ke lokasi kejadian. Selain itu, di dalam kapal juga ikut serta 30 an awak kapal, petugas, penyelidik ikut bersama dengan kapal Patrol no 8 tersebut.

Walaupun pelayaran membutuhkan waktu 13 hingga 15 hari, saat berangkat telah dilengkapi dengan berbagai keperluan hidup, termasuk air dan makanan, yang mana diperkirakan mampu untuk memenuhi kebutuhan selama 30 hari. Untuk itu, kapal penolong tidak akan merapat atau istirahat di pelabuhan manapun. Kini kapal lainnya, Hungfu no 88 dan Sangfeng no 3, masih tetap melakukan monitor dan mengawasi kapal Wenpeng yang berhasil dikepung.

CGA menjelaskan bahwa pihaknya akan mengutus 4 petugas untuk berangkat dengan pesawat terbang menuju Maldives, baru kemudian menumpangi kapal yacht cepat agar dapat segera tiba di lokasi kejadian.

CGA menyebutkan bahwa pada tahun 2013, juga sempat terjadi kasus pertikaian berdarah serupa pada kapal penangkap ikan “Tehungsing no 368” dari Su’ao saat berlayar menuju Samudera Pasifik. Kasus tersebut dikarenakan adanya permasalahan dalam manajemen kapal, sehingga kapten kapal dan kepala mesin kapal dibunuh oleh 9 ABK berkewarganegaraan Indonesia. Kasus terjadi di bagian tenggara Palau. Kapal penolong Patrol no 7 saat tiba ke lokasi kejadian, menghabiskan waktu selama 28 hari dengan total perjalanan lebih dari 10 ribu mil laut. Kasus berakhir dengan penyerbuan CGA terhadap kapal dan menangkap semua ABK asal Indonesia tersebut.

Komentar

Terbarumore