(Taiwan, ROC) – Belakangan ini disinyalir ditemukannya kembali telur yang terkontaminasi Fipronil. Berkenaan dengan hal ini Kepala Dewan Pertanian Chen Chi-chung pada hari Sabtu tanggal 16 Februari pagi hari menegaskan bahwa isu tersebut hanya berupa satu kasus semata, pihaknya juga telah melakukan inspeksi di lapangan, dan memastikan bahwa telur yang ada di pasaran dalam kondisi baik dan tidak ditemukan adanya telur yang terkontaminasi Fipronil, sehingga masyarakat diminta untuk tidak perlu khawatir saat membeli telur.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan pada hari Rabu tanggal 13 Februari lalu menerima informasi dari Dewan Pertanian bahwa pihaknya pada tanggal 25 Januari saat melakukan penyelidikan, menemukan telur ayam yang berasal dari peternakan “Sun Hung” di Chiayi, memiliki kandungan Fipronil sebesar 2 hingga 5 kali lipat dibandingkan dengan standar yang diberlakukan, dan total sejumlah 4.488 kg telur ayam telah habis terjual. Merujuk kepada data statistik yang ada, mulai dari bulan Januari hingga pertengahan Februari, telah terdapat 27.600 kg telur ayam yang dijual di pasaran, khususnya untuk pemasokan pada restoran sarapan pagi dan juga kebutuhan konsumsi perorangan.
Kepala Dewan Pertanian Chen Chi-chung saat menerima wawancara menjelaskan bahwa badan penanggulangan dan penyelidikan melakukan pemeriksaan secara acak sesuai dengan laporan data peternakan ayam yang dikeluarkan setiap tahunnya. Penyelidikan tersebut adalah untuk memeriksa kandungan Fipronil yang ada dalam telur. Adapun telur yang diperiksa tersebut, adalah dalam bentuk tumpukan, dan tumpukan kali ini yang diperiksa adalah yang diajukan pada tanggal 28 Januari. Karena pemeriksaan dilakukan per tumpukan telur, maka hasil pemeriksaan baru keluar per tanggal 13 Februari. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan Fipronil yang melebihi batas standar umum, sehingga instansi terkait memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan ulang. Dalam pemeriksaan ulang tersebut, pihak Dewan Pertanian menemukan kondisi telur dalam keadaan normal dan tidak melewati batasan standar, sehingga dipastikan telur yang telah beredar di pasaran tidak tercemar Fipronil.
Chen Chi-chung menyebutkan bahwa peternakan yang disebutkan tersebut tidak ada catatan buruk sebelumnya, dan ini adalah kali pertama ditemukannya kandungan Fipronil yang melewati batas standar. Karena pihak Dewan Pertanian menemukan hal tersebut di waktu pertama, sehingga segera melakukan upaya pengawasan yang lebih ketat. Apakah pengawasan tersebut juga akan menciptakan pasar kekurangan telur, Chen Chi-chung menjawab bahwa ini adalah hanya satu kasus semata, sehingga tidak akan menimbulkan masalah kekurangan telur di pasar.