(Taiwan, ROC) – Hari libur untuk Tahun Baru Imlek kali ini mencapai 9 hari, sehingga boleh dikatakan adalah sebuah hal yang menggembirakan bagi banyak masyarakat, selain itu juga turut mendongkrak pemasukan dalam bidang pariwisata. Anggota Legislator dari Partai DPP Chiang chieh-an saat rapat interpelasi umum di Yuan Legislatif, mengajukan usul pemikiran berkenaan dengan masa libur utnuk Tahun Baru Imlek selanjutnya, apakah dapat ditetapkan selama 9 hari. Perdana Menteri Su Tseng-chang memberikan jawaban bahwa pihaknya akan melakukan diskusi dengan bagian personalia di Yuan Eksekutif, dan akan mempertimbangkan usulan tersebut. Namun hal ini juga dikhawatirkan bisa memberikan dampak negatif bagi para pelaku usaha, karena hari libur yang lebih panjang akan memperbesar dana pengeluaran perusahaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Su Tseng-chang pada hari Sabtu tanggal 16 Februari, saat menghadiri pameran buku Taipei menjawab pertanyaan media, bahwa hal tersebut bukan berarti libur di hari biasa. Hanya saja kebijakan perpanjangan hari libur disesuaikan dengan penataan ulang terkait hari kerja di waktu lainnya, sama halnya dengan musim liburan tahun ini, dimana hari libur yang mencapai 9 hari tersebut, dikarenakan usai melakukan penataan waktu kerja di hari lainnya.
Su Tseng-chang mengambil contoh lainnya, bahwa masyarakat Taiwan pada umumnya memiliki kebiasaan makan malam bersama pada satu hari sebelum Tahun Baru Imlek. Jika hari pertama libur ditempatkan pada satu hari sebelum Tahun Baru Imlek, maka niscaya kondisi transportasi akan lumpuh total, dan hal ini akan memberikan dampak buruk bagi seluruh kehidupan sosial masyarakat. Untuk itu, yang dapat dilakukan adalah melakukan penataan waktu kerja di hari lain, dan bukan berarti libur di hari biasa, dan hal itu tidak boleh menjadi beban baru bagi para pelaku usaha atau perusahaan.
Su Tseng-chang meminta publik tidak perlu cemas, dan pemerintah tentu akan melakukan pertimbangan ulang kemudian memberikan pengumuman untuk umum.