(Taiwan, ROC) - Sejumlah legislator partai berkuasa Partai Progresif Demokratik (DPP) mengadakan temu pers pada Kamis, 20 Desember, meminta pemerintah pusat segera meluncurkan program pencegahan penyebaran Asfivirus tingkat nasional, agar tidak ada lubang dalam kebijakan anti epidemi mematikan yang juga disebut sebagai flu babi Afrika itu.
Legislator Liu Chien-kuo (劉建國) mengemukakan, perbedaan cara penanganan jenazah babi dalam kasus ditemukannya babi tewas di pantai Desa Wujie, Kabupaten Yilan, antara pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat, menonjolkan kepentingan dengan segera diluncurkannya program pencegahan penyebaran Asfivirus tingkat nasional.
Menurut Liu, dalam penanganan jenazah babi tewas tanggal 19 itu, pemkab akhirnya mengadopsi kebijakan pembakaran, berbeda dari sikap pemerintah pusat yang bercondong pada pemakaman di lokasi. Perbedaan kebijakan ini, tegas Liu, mungkin menjadi lubang bagi penyebaran Asfivirus ke Taiwan.
Perihal isu ini, Sekretaris Jenderal Biro Inspeksi Kesehatan dan Karantina Binatang dan Tumbuhan (BAPHIQ) di bawah Dewan Pertanian (COA) Cheng Chun-pin (鄭純彬) mengutarakan, masih untung pemeriksaan Asfivirus terhadap sampel jenazah babi tersebut menunjukkan hasil negatif, membuktikan bahwa jenazah tersebut mungkin dibuang oleh peternak lokal.
Mengenai pemeriksaan di perbatasan, lanjut Cheng, COA telah bekerja sama dengan Dirjen Imigrasi, Polisi Pengawal Pantai serta lembaga-lembaga terkait lain, menjamin tidak akan ada penyelundupan produk babi dan tidak ada kasus warga yang membawa produk daging babi ke Taiwan secara tak disengaja.
Cheng Chun-pin mengatakan, “Polisi Pengawal Pantai telah memperketat patroli. Pemeriksaan terhadap kapal nelayan boleh dikata dilaksanakan 100%, tak peduli terhadap kapal Tiongkok, Taiwan mau pun negara lain, semuanya diperiksa.”
Cheng juga mengingatkan, selain makanan kaleng, semua produk daging lain dilarang dibawa masuk ke Taiwan. Andaikata ditemukan, pertama kali akan didenda 200 ribur dolar Taiwan, residivis akan didenda 1 juta dolar.