Harga bahan pokok masyarakat mengalami kenaikan, khususnya harga daging ayam dan babi yang cukup tinggi. Masyarakat pun segera memberikan reaksi mengenai naiknya barang makanan yang ada. Namun dewan statistik negara atau DGBAS yang memprediksi indeks harga barang konsumen bulan Januari dan Februari yang mengalami kenaikan sebesar 0,39%, tampaknya berbeda besar dengan yang dirasakan oleh masyarakat. Bank Sentral Taiwan sendiri memberikan prediksi bahwa nilai indeks CPI secara keseluruhan akan lebih tinggi dibandingkan nilai CPI dari DGBAS.
Dewan keuangan Yuan Legislatif dalam rapat pada hari Kamis tanggal 13 Maret, saat mendengarkan laporan dari DGBAS dan juga instansi terkait lainnya, ketua DGBAS Shih Su-mei memberikan penjelasan bahwa penelitian harga barang terdiri lebih dari 370 bidang, ada yang mengalami kenaikan, ada pula yang mengalami penurunan. Hal ini tentu saja akan dirasakan oleh masyarakat yang sering berbelanja. Jika dilihat dari harga daging babi semata, maka setiap kenaikan 10% akan langsung menaikkan indeks CPI sebesar 0,1. Karena harga grosir akan memberikan pengaruh terhadap harga eceran di masa yang akan datang, maka nilai CPI bulan Maret juga akan dilakukan perubahan kenaikan.
Shih Su-mei mengatakan, “untuk produk daging memang sudah terjadi beberapa saat yang lalu. Pada akhir bulan Februari, harga daging babi grosir memang mengalami kenaikan. Hal ini tentu akan mempengaruhi harga eceran di masa depan. Sehingga harga daging babi pada bulan Februari naik sebanyak 1,12%. Tetapi memang harga daging babi mengalami kenaikan yang tertinggi dalam waktu 3 bulan terakhir ini.”
Selain itu angka indeks perkembangan perekonomian Taiwan tahun 2013 yang bertahan pada angka 2%, pihak DGBAS memprediksi bahwa angka GDP tahun 2014 akan naik menjadi 2,82%.