(Taiwan, ROC) – Seiring dengan terus berlangsungnya perang dagang antara Daratan Tiongkok dengan Amerika Serikat, maka merujuk kepada informasi yang diperoleh dari Kementrian Perekonomian atau MOEA, pengusaha Taiwan yang mempertimbangkan ulang untuk investasi di Taiwan bertambah hingga gelombang ke dua. Selain itu, lebih dari seratus negara di dunia telah menjanjikan untuk menggunakan Common Reporting Standard atau CRS, sehingga menarik perhatian besar para pengusaha Taiwan untuk memulangkan dananya kembali ke Taiwan. Taiwan sendiri akan menggunakan kebijakan CRS tersebut pada tahun depan.
Menteri Keuangan Su Jain-rong pada hari Rabu tanggal 3 Oktober saat menerima wawancara dari media menjelaskan bahwa sehubungan dengan dana uang yang diparkir di luar negeri akan kembali masuk ke dalam negeri, tidak semata hanya masalah penarikan pajak saja, dimana yang terpenting adalah kemanakah dana akan mengalir setelah masuk ke dalam negeri. Pemerintah berharap para pengusaha dapat melakukan investasi yang lebih nyata, selain itu juga harus mempertimbangkan penilaian terhadap Taiwan yang dilakukan oleh APG atau Badan Pencegahan Pencucian Uang Asia Pasifik. Sedapat mungkin menghindari penyebutan “Penyimpanan uang, pencucian uang”, berkenaan dengan adanya dana uang yang masuk ke Taiwan.
Su Jain-rong mengatakan, “Kami menerima penilaian yang dilakukan oleh APG tahun ini, bagi negara tentu penilaian ini akan menjadi sangat penting. Merujuk kepada sejarah yang ada saat setiap negara memberlakukan tax amnesty, maka akan dipinta untuk memberikan laporan kepada APG, dan ini menjadi hal yang sangat penting bagi pemerintah. Untuk itu Perdana Menteri juga telah mengingatkan semua pihak untuk benar-benanr melakukan pertimbangan berkenaan dengan pengembangan perpajakan industri yang adil, pencegahan pencucian uang, pengelolaan perbankan yang ketat.”
Sehubungan dengan akibat dari perang dagang yang masih terus berlangsung, Su Jain-rung mengungkapkan bahwa untuk tahap awal jumlah ekspor di bulan September masih mengalami peningkatan. Jika perang dagang menyebabkan adanya krisis moneter seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008, maka akan turut memberikan ancaman yang terstrukturkan, karena pada saat itu, Taiwan mengalami kekurangan penarikan pajak sebesar NT$ 200 milyar.