(Taiwan, ROC) - Perang dagang antara Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok terus merebak, pengusaha Taiwan menghadapi masalah kekurangan lahan. Kementrian Perekonomian pada hari Jumat tanggal 28 September menjelaskan, hingga akhir Juli tahun ini, tersedia lahan seluas 214,5 hektar di kawasan industri yang tidak digunakan, khususnya di kawasan tengah Taiwan. Kementerian Perekonomian juga mengemukakan, berhubung dengan kawasan industri di bagian utara lebih padat dan juga ada pabrik, jadi bisa mengunakan kawasan industri yang lebih baru agar dapat meningkatkan volume, selain itu juga memenuhi permintaan akan lahan tanah. Berkenaan dengan pengusaha Taiwan yang belum memiliki pabrik dan tanah, disarankan untuk mulai mengakarkan usahanya di wilayah tengah dan selatan Taiwan.
Ada solusi penyelesaian dalam masalah kekurangan lahan tanah, Kementerian Perekonomian dalam inventarisasi pengunaan tanah kawasan industri hingga akhir bulan Juli kemarin, tercatat sebanyak 344 tempat atau sekitar 214,5 hektar tanah yang selama 3 tahun terakhir ini tidak terpakai. Untuk tanah tidak terpakai yang diumumkan untuk wilayah Taichung tercatat sebanyak 142,1 hektar.
Badan Industri Kementerian Perekonomian mengemukakan, setelah diumumkan tanah yang tidak digunakan secara hukum, pemilik masih memiliki waktu 2 tahun untuk menjadikannya sebagai pabrik usaha sendiri atau disewakan bagi mereka yang membutuhkan. Apabila hingga batas waktu yang ditentukan tidak ada perbaikan, maka akan dikenakan sanksi denda paling banyak 10% dari harga keseluruhan selain itu juga harus mengajukan proposal rencana perbaikan. Apabila setelah itu masih tidak ada perbaikan maka berdasarkan prosedur hukum, tanah tersebut akan dilelang.
Berhubung dengan pengumuman penggunaan tanah industri yang mana untuk bagian utara dan timur terdapat 33,1 hektar yang dikhawatirkan sulit untuk mencukupi permintaan dari pengusaha Taiwan yang kembali ke tanah air akibat dampak perang dagang Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok. Badan Industri menyampaikan, di bagian utara sudah ada pemilik tanah dan pabrik, dapat melalui kawasan industri baru yang dapat meningkatkan volume hingga 50%; dianjurkan agar pengusaha lainnya untuk mendirikan pabriknya di wilayah tengah dan selatan.
Badan Industri menyampaikan, saat ini masih belum pengusaha Taiwan yang kembali pulang akibat dampak perang dagang Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok.