(Taiwan/ROC) --- Perang perdagangan antar Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok terus memanas. Kedua pihak memberlakukan tarif pajak sebesar 25% untuk produk yang memiliki nilai lebih dari US$ 50 miliar. Negeri Paman Sam tersebut bermaksud untuk menambahkan tarif pajak kepada Daratan Tiongkok terhadap produk lainnya, dengan nilai sebesar US$ 200 miliar. Daratan Tiongkok pun tidak tinggal diam, mereka mengemukakan juga akan mengenakan tarif sebesar US$ 60 miliar atas produk Amerika Serikat. Media asing melaporkan bahwa Amerika Serikat akan mulai memberlakukan tarif pajak sebesar US$ 200 miliar pada Senin (17/9). Namun demikian, persentase pajak akan merosot tajam, dari yang semula 25% menjadi 10%.
Dunia luar khawatir jika tarif pajak ini menurun, maka niat pengusaha Taiwan untuk memindahkan pusat produksi mereka ke Taiwan atau ke negara Kebijakan Baru ke Arah Selatan juga akan berkurang. Menteri Ekonomi Shen Jong-chin (沈榮津) saat menerima wawancara mengemukakan bahwa jika pemberlakuan tarif pajak ini dimulai, maka produk yang akan terkena dampaknya adalah netcom dan sepeda. Namun, jika tarif pajak yang diberlakukan tidak setinggi sebelumnya dan apakah akan ada perusahaan yang meninggalkan Daratan Tiongkok, keputusan ini harus dikembalikan pada masing-masing pelaku usaha. Tarif pajak sebesar 25% baru dapat mempengaruhi proses produksi secara massal. Ia juga menambahkan hal ini tentu tidak memberikan pengaruh kepada 20 pengusaha Taiwan yang pada awalnya memiliki niat untuk kembali ke Taiwan.
Shen Jong-chin mengatakan, “Hal ini mungkin tidak terjadi. Saya rasa mereka telah memikirkan langkah-langkah pencegahannya. Diperkirakan yang akan terkena dampak utamanya adalah produk netcom, sepeda dan produk teknologi informasi”.
Sekjen Asosiasi Industri Nasional Tsai Lian-sheng (蔡練生) pada Senin (17/9) mengemukakan jika Amerika Serikat memberlakukan tarif pembalasan kepada Daratan Tiongkok, maka Taiwan akan memindahkan basis ekspornya. Para pelaku usaha Taiwan memiliki 1 opsi, yakni kembali ke tanah air. Namun, Tsai Lian-sheng menambahkan bahwa pengusaha Taiwan menitikberatkan pada 5 permasalahan; yakni air, listrik, tanah, SDM dan tenaga berbakat. Mereka mengharapkan bahwa Taiwan dapat meningkatkan atau setidaknya memperbaiki 5 permasalahan tersebut.
Baru-baru ini CEO Powerchip Technology Corporation, Frank Huang (黃崇仁) akan menginvestasikan modal sebesar NT$ 278 miliar di Taiwan. Diketahui perusahaan tersebut juga menanamkan modalnya di Daratan Tiongkok. Meskipun demikian Taiwan dirasa memiliki nilai yang lebih baik dan lebih kompetitif. Terkait dengan perang perdagangan yang tengah terjadi, Frank Huang mengemukakan bahwa investasi mereka di sana adalah untuk memenuhi pasokan permintaan Daratan Tiongkok. Namun banyak para pelaku usaha yang merakit produknya di Daratan Tiongkok, yang kemudian dijual ke Amerika Serikat.