History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Perdagangan NSBP Diharapkan Tembus 20% Kementerian Ekonomi : Tidak Perlu Tunggu 2020

  • 07 September, 2018
  • Editor
Perdagangan NSBP Diharapkan Tembus 20%  Kementerian Ekonomi : Tidak Perlu Tunggu 2020
Perdagangan NSBP Diharapkan Tembus 20% Kementerian Ekonomi : Tidak Perlu Tunggu 2020

(Taiwan, ROC) China Credit Information Service (A CRIF) dalam survei yang diumumkan memperlihatkan, beberapa tahun terakhir ini perbandingan perdagangan Taiwan dan negara yang menjadi target kebijakan baru ke arah selatan tidak akan dapat menembus 20%, diperkirakan tahun 2020 mendatang dapat menerobos batasan ini. namun Wakil Menteri Ekonomi, Wang Mei-hua hari Jumat (7/9) ketika menerima wawancara mengemukakan, jika dilihat dari perkembangan perdagangan bilateral dengan negara kebijakan baru ke arah selatan untuk paruh tahun pertama maka tidak perlu menunggu hingga tahun 2020, diharapkan tahun ini sudah dapat mencapai target.   

Wakil Menteri Ekonomi, Wang Mei-hua tanggal 7 September hadir dalam forum “Hukum Perdagangan ASEAN dan Asia Selatan” dalam wawancara media terkait dengan survei perkiraan yang dikeluarkan A CRAF bahwa cakupan perdagangan bilateral untuk pasar negara kebijakan baru ke arah selatan baru dapat menembus 20% setelah tahun 2020, Wang Mei-hua merespon, tahun lalu sudah hampir mencapai 20% dengan nilai sekitar USD110 milyar, 20% merupakan angkat yang sangat umum tidak perlu menunggu sampai tahun 2020, tahun ini sudah ada kesempatan untuk mencapai target tersebut. Wang Mei-hua mengatakan, “Sebenarnya sudah kurang lebih 20%, hingga paruh pertama tahun ini ekspor impor bilateral masih terus berkembang, seharusnya sekitar 20%, tidak perlu menanti tahun 2020.”

Namun dalam pasar negara kebijakan baru ke arah selatan dimana rupiah Indonesia mengalami inflasi parah, pemerintah setempat memperkirakan akan mengenakan pajak terhadap 900 jenis produk impor guna menutupi penurunan mata uang, apakah ini akan mempengaruhi perdagangan Taiwan dan Indonesia? Wang Mei-hua beranggapan, fluktuasi penurunan nilai mata uang rupiah mencapai sekitar 8.9% tentu ini menimbulkan kesulitan pihak Indonesia, namun melihat situasi saat ini pihak Indonesia mengincar pajak barang mewah dan sedapat mungkin menggunakan produk sumber alam sendiri, sampai nanti pihak Indonesia memastikan daftar tariff pajaknya dan berdasarkan peraturan WTO setelah diumumkan ke publik baru dapat memperkirakan imbasnya, pihak Taiwan akan terus memperhatikan perkembangan Indonesia. 

Mengenai pengaruh fluktuasi mata uang negara kebijakan baru ke arah selatan dan negara berkembang terhadap tata letak pasar Taiwan, Wang Mei-hua mengatakan, pengaruh yang paling besar adalah ekspor tetapi harus menelaah apakah fluktuasi penurunan nilai mata uang ini untuk jangka pendek atau panjang dan tentu saja ini menimbulkan tekanan bagi kebanyakan industri yang mengekspor barangnya namun diyakini para pengusaha juga memahami bagaimana merespon situasi ini.

Komentar

Terbarumore