(Taiwan, ROC) – Presiden Tsai Ing-wen pada hari Rabu tanggal 1 Agustus menghadiri Forum Austronesian 2018. Dalam kata sambutannya, Presiden Tsai menyampaikan bahwa guna dapat merampungkan rencana transformasi keadilan dan sejarah suku adat asli secara lengkap, ada tugas utama yang harus dilakukan yaitu pendidikan. Presiden Tsai juga telah menugaskan instansi yang terkait untuk dapat lebih berinisiatif mendukung pengembangan sistem pendidikan suku adat asli, sehingga generasi muda suku adat asli dapat belajar di dalam lingkungan dengan latar belakang suku budayanya sendiri, dimana hal ini tentu dimaksudkan untuk mewariskan bahasa dan budaya yang ada, serta membawa suku adat asli menjadi sumber daya manusia yang terampil di kedepannya.
Hari ini adalah hari suku adat asli di Taiwan, dan Forum Austronesian tahun ini telah memasuki usia ke dua tahun, dimana dalam jangka waktu 2 tahun terakhir ini, pemerintah telah bertahap merealisasikan janji program kerja bidang suku adat asli. Selain dibentuknya dewan transformasi keadailan dan sejarah suku adat asli, pihak Yuan Eksekutif juga akan menggelar rapat diskusi perihal perkembangan pengusungan undang-undang suku adat asli secara berkala. Di waktu yang bersamaan, Yuan Legislatif juga telah meloloskan Undang-Undang Pengembangan Bahasa Suku Adat Asli, dan memberikan keleluasaan penggunaan bahasa ibu masing-masing suku sebagai bahasa nasional. Untuk Yuan Yudikatif, juga telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Bantuan Hukum Nasional, dengan membentuk Pusat Pelayanan Hukum Suku Adat Asli. Semua ini dilakukan karena pemerintah sangat mempedulikan bidang sejarah dan proses transformasi keadilan suku adat asli.
Presiden Tsai Ing-wen menegaskan jika ingin merampungkan program secara lengkap, maka masih ada satu tugas penting yakni pendidikan. Saat ini di Taiwan mulai tersedia beberapa sekolah praktek uji khusus suku adat asli, sehingga diharapkan bisa mewariskan bahasa suku adat asli Taiwan termasuk budayanya.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Anak-anak keturunan suku adat asli memiliki hak untuk belajar dalam lingkungan budayanya sendiri, mendapatkan pendidikan yang lengkap sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, maka bahasa dan budaya barulah dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Selain itu juga untuk membawa suku adat asli menjadi bagian dari SDM masa depan. Dengan ragam sistem pendidikan, barulah bisa memperkaya lingkungan pendidikan dalam kehidupan sosial masyarakat di Taiwan.”
Presiden Tsai juga menyatakan dirinya mampu memahami perasaan sakit hati akibat tekanan atau disepelekan, yang dialami oleh suku adat asli selama kurun waktu 400 tahun, sangatlah sulit untuk bisa teratasi dalam kurun waktu 2 tahun. Namun ia melihat ada perubahan yang tengah terjadi, dan pemerintah akan tetap pada prinsipnya untuk melanjutkan program kerja dengan turut melakukan diskusi musyawarah dengan berbagai elemen masyarakat.