(Taiwan/ROC) --- Cambridge Analytica, sebuah perusahaan analisa data asal Britania Raya yang menyusup ke salah satu media sosial ternama, yakni Facebook dan telah meretas data 50 juta pengguna. Atas peristiwa ini, sebagian masyarakat merasa terkejut akan peran serta dari Facebook yang mampu menguasai data pribadi para penggunanya. Terkait akan hal ini, Forum Inovasi Digital 2018 pada Jumat (20/7) menyertakan topik perlindungan data pribadi di dunia maya sebagai salah satu tema pembahasan utama. Extensia merupakan salah satu pelaku usaha bidang medis yang menyediakan jasa untuk menyelesaikan pelbagai permasalahan piranti lunak. Di Australia sendiri, Extensia telah berhasil menghadirkan ragam sistim inovasi untuk menjaga privasi para pengguna di bidang medis. CEO Extensia Emma Hossack diundang untuk menghadiri Forum Inovasi Digital 2018 yang di gelar di Taipei. Dirinya diketahui juga memberikan seminar dengan tema “Pengembangan Keamanan Informasi dan Solusi Menghadapi Tantangan di Tengah Era Digital”.
Seminar ini dibuka dengan menghadirkan film fiksi ilmiah. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa pemerintah memberi makan masyarakatnya dengan potongan mayat. Ironisnya, masyarakat sendiri tidak tau dan paham akan makanan yang diterima dari pemerintah tersebut. Emma Hossack mengemukakan fenomena yang terjadi saat ini layaknya seperti film tersebut. Ia menekankan bahwa di era digital saat ini, masyarakat awam tidak paham dan mengerti akan data pribadi yang mereka unggah ke dunia maya. Yang berujung akan bocornya data informasi, membuat data-data ini sangat rentan dipergunakan secara tidak bertanggung jawab.
Ia mengemukakan, pemberian data pribadi akan melibatkan persetujuan para penggunanya. Ia memberikan contoh akan regulasi pendaftaran donor organ di Jerman yang memberlakukan sistem sukarela. Dengan adanya sistem tersebut, 12% masyarakat Jerman sukarela mendonorkan organ tubuhnya setelah kematian. Sebaliknya di Australia, menganut kebijakan mundur secara sukarela. Karena sebagian besar masyarakat tidak paham, lebih dari 99% rakyat Australia, setelah meninggal maka lembaga medis dengan berbagai cara dapat mengambil organ mereka. Emma Hossack menambahkan setelah ia memberitahukan hal tersebut kepada khalayak umum, masyarakat Australia berbondong-bondong dengan melakukan berbagai cara untuk mengajukan permohonan penarikan donasi organ. Dengan contoh ini, ia memberitahukan kepada peserta seminar, bahwa dalam perlindungan data pribadi, banyak masyarakat yang tidak mengambil tindakan apapun. Hal ini bukan disebabkan karena malasnya masyarakat, melainkan kurangnya pemahaman akan informasi relevan.
Emma Hossack mengatakan, “Jadi mereka menemukan, sebelum Anda menggunakan layanan jaringan dunia maya, maka Anda harus membaca dan memahami ketentuan dalam surat persetujuan. Namun untuk membaca surat persetujuan ini, membutuhkan waktu 4 hingga 6 minggu. Rata-rata orang tidak ingin membacanya. Fenomena ini sudah terjadi semenjak 10 tahun yang lalu. Dengan kata lain, Anda harus menghabiskan waktu setidaknya 1 bulan untuk membaca habis setiap surat persetujuan. Hal ini hanya akan membuat kita menjadi pengguna layanan tersebut, tanpa paham atau kurangnya kepercayaan terhadap pelaku usaha tersebut”.
Emma Hossack juga mengemukakan bahwa perlindungan data privasi dan informasi menjadi revolusi industri penting berikutnya. Dan dibalik informasi tersebut haruslah terdapat rasa kepercayaan. Ketika kepercayaan tersebut mencapai tingkat tertentu, hal ini dapat mendatangkan keuntungan secara finansial. Sama halnya dengan Uber. Untuk menjamin keamanan data ekonomi dari 21 peserta APEC dan informasi pribadi seluruh masyarakat dunia, Emma Hossack mendukung seluruh pihak terkait yang turut serta dala pertemuan akbar APEC yang akan diadakan di Papua Nugini pada Bulan Oktober mendatang, untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan terkait.