(Taiwan, ROC) – Guna memenuhi kebutuhan SDM bidang pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang dibutuhkan oleh Taiwan saat ini, maka perusahaan yang mendapatkan tender pembangunan PLTA lepas pantai, Copenhagen Infrastructure Partners atau CIP, bersama dengan National Taiwan University atau NTU dan Danmarks Tekniske Universitet atau DTU, menandatangani MoU nota kerjasama, dimana ketiga belah pihak akan meluncurkan paket program pendidikan tambahan melalui internet, khusus bagi mereka yang telah berstatus pekerja, serta membuka gelar studi strata dua untuk jurusan pengembangan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Pihak CIP juga akan menyediakan 10 kesempatan kerja magang bagi para pelajar dalam negeri, sehingga memiliki kesempatan untuk mencoba berkarya dalam bidang teknologi pembangkit listrik tenaga angin, proyek administrasi kelautan, asuransi dan perencanaan terkait lainnya, dengan upah gaji bulanan sebesar NT$ 50 ribu. Semua hal ini dimaksudkan untuk benar-benar menghidupkan program pembinaan SDM terkait di Taiwan.
Taiwan yang mengusung program pembangunan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, diperkirakan mampu memberikan 32 ribu lapangan pekerjaan, yang meliputi 2.100 SDM inti.
CIP menggandeng NTU dan DTU yang memiliki banyak pengalaman dalam bidang pendidikan ilmu tenaga angin. Ketiga belah pihak mengumumkan jika pendidikan lewat internet akan menggunakan sistim online DTU, dan memadukannya dengan kebutuhan lokal dan kemampuan NTU lainnya. Pihak DTU juga akan membantu NTU dalam pengadaan pendidikan bergelar strata dua untuk jurusan pengembangan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.
Ketua Departemen Jurusan Ilmu Teknik dan Teknik Kelautan NTU, Jiang Mao-xiong menjelaskan 5 tahun silam NTU telah mulai membuka mata kuliah terkait, namun karena meliputi ragam ruang lingkup yang sangat luas, sementara Taiwan saat ini masih belum mampu memenuhi semua kebutuhan yang diinginkan. Sehingga dengan adanya kerjasama dengan DTU yang dipandu oleh CIP, selain mampu menghidupkan pembelajaran dan pembinaan untuk kebutuhan SDM terkait, juga kelak di masa yang akan datang, pendidikan bidang tenaga angin akan mampu merambah hingga ke universitas lainnya.
Jiang Mao-xiong mengatakan, “Sebenarnya yang kami lihat, bukan hanya ada NTU semata, karena kebutuhan SDM ini adalah untuk seluruh kebutuhan Taiwan. Selain itu telah ada beberapa orang dari pihak universitas lain yang telah datang untuk meminta bantuan, karena mereka juga ingin membuka mata kuliah terkait. Kami sendiri juga kesulitan untuk membuka mata kuliah, bagaimana dengan mereka? Tim kami terdiri dari 10 an dosen yang telah menjalani penelitian terkait lebih dari 10 tahun. Mata kuliah seperti ini, bukan hanya ingin lantas bisa langsung dibuka. Untuk itu, kami di sini juga ingin mengumumkan bahwa NTU akan menjadi penggembala di depan yang mengusung SDM bergelar strata dua bidang pembangkit listrik tenaga angin.”
Dalam kesempatan yang sama, CIP juga mengumumkan program penyediaan kerja magang, dimana pada bulan September akan memilih maksimal 10 pelajar magang, dengan masa magang dua tahun, dan diberikan gaji upah bulanan sebesar NT$ 50 ribu. CEO dari CIP untuk kawasan Taiwan, Jesper Krarup Holst menjelaskan dengan melihat penawaran standar gaji bagi pelajar magang saja, dapat diketahui bahwa kelak kedepannya pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai memiliki peluang yang sangat tinggi.