(Taiwan, ROC) - Taiwan diranking sebagai negara dengan daya kompetisi paling kuat ke 17 di dunia pada 2018 oleh Institute for Management Development (IMD) yang berbasis di Swiss.
Urutan tersebut merosot tiga posisi dibandingkan tahun lalu, membuat Taiwan menduduki ranking tertinggi keempat di Asia, menyusul di belakang Hong Kong, Singapura dan Daratan Tiongkok.
Menurut laporan IMD tersebut, ini adalah pertama kali ranking Taiwan lebih rendah daripada Daratan Tiongkok, yang urutannya naik lima posisi menjadi ke 13; juga merupakan penampilan Taiwan paling buruk dalam sembilan tahun sejak 2009 ketika menduduki ranking ke 23.
Secara internasional, Amerika Serikat tahun ini meraih kembali ranking paling top dari Hong Kong, meningkat tiga urutan banding tahun lalu. Hong Kong, sementara itu, turun ke urutan kedua, disusul Singapura, Belanda dan Swiss.
Sekedar informasi, IMD meranking 63 badan ekonomi berdasarkan analisis dalam lebih dari 340 kriteria yang dikelompokkan ke empat kategori: penampilan ekonomi, keefisien pemerintah, keefisien bisnis dan infrastruktur. Secara keseluruhan, Taiwan mencatat prestasi paling buruk dalam bidang “pasar tenaga kerja” di bawah kategori “keefisien bisnis.”
Perihal turunnya daya kompetisi Taiwan berdasarkan laporan IMD, Wakil Ketua Dewan Perkembangan Nasional (NDC) Chiou Jiunn-rong (邱俊榮) hari Kamis, 24 Mei, berpendapat, turunnya indeks “pasar tenaga kerja” mewakili upaya Taiwan memperbaiki lingkungan pasar tenaga kerja untuk meninggikan kapital bisnis, maka turunnya ranking Taiwan tidak sepenuhnya hal buruk.
Chiou Jiunn-rong mengatakan, “Yang mengalami kemunduran terbesar adalah kategori ‘keefisien bisnis.’ Apakah ini berarti manajemen bisnis yang buruk? Saya rasa tidak, karena manajemen bisnis di Taiwan cukup baik. Sebagai contoh, pada saat syarat tenaga kerja berubah baik, tekanan lebih besar akan dirasakan pihak majikan, maka mundurnya indeks ‘keefisien bisnis’ di taraf tertentu berarti syarat, jam kerja dan upah tenaga kerja sedang mengalami perbaikan.”
Mengenai isu yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kung Ming-hsin (龔明鑫) juga tidak berpendapat terlalu pesimis. Menurutnya, reformasi ekonomi membutuhkan waktu untuk mengembangkan fungsinya, maka berbagai reformasi yang tengah berlangsung di Taiwan, misalnya revisi undang-undang ketenagakerjaan, bisa dipastikan akan membuahkan hasil sama-sama menang bagi pihak majikan dan buruh di masa depan.