(Taiwan, ROC) -- Setelah kemarin (17/5) berkunjung ke Museum Hak Asasi Manusia Taman Memorial Teror Putih, Green Islan di mana Presiden Tsai Ing-wen sendiri yang memimpin upacara peresmian pembukaan museum ini, pada hari ini, Jumat (18/5) dengan ditemani Perdana Menteri William Lai, Menteri Kebudayaan Cheng Li-chiun, perwakilan dari korban serta tamu-tamu undangan internasional menarik kain penutup monument Teror Putih Museum HAM di kawasan Memorial Jing Mei yang berarti Museum Hak Asasi Manusia Nasional telah diresmikan.
Museum HAM yang dari dulu sangat dinantikan masyarakat Taiwan akhirnya telah hadir, para korban dan keluarga korban politik merasa sangat senang dan berharap melalui museum HAM ini setahap demi setahap dapat mengembalikan fakta sejarah.
Perdana Menteri William Lai menyampaikan, diresmikannya museum HAM adalah momen bersejarah, meskipun sedikit terlalu lama, agak terlambat tetapi tiba juga waktunya, berdirinya museum HAM tidak saja sebagai penghormatan pada korban politik Taiwan tetapi juga menandakan kalau akhirnya Taiwan bisa membuka jendela hati masyarakat Taiwan, berjalan ke jalan damai dan nantinya akan melangkah keluar garis pertama untuk lebih aktif melindungi demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia Taiwan.
William Lai mengatakan, “Di masa lalu korban terbesar dari pelanggaran hak asasi manusia adalah pemerintah, sekarang dengan menggunakan kekuatan negara mendirikan Museum Hak Asasi Manusia, menunjukkan kalau pemerintah telah memasuki garis pertama, tidak akan seperti dulu lagi berjalan di jalan yang salah, melainkan akan melindungi demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia Taiwan.”
Menteri Kebudayaan, Cheng Li-chiun juga menegaskan, museum HAM di Green Island dan Jing Mei telah diresmikan, tidak saja sebagai satu-satunya museum HAM nasional di Asia melainkan juga memiliki makna penting dimana Taiwan telah menjadi negara yang melindungi hak asasi manusia di dunia.