(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan keinginan pengusungan kandidat walikota Taipei dari partai DPP sendiri, Walikota Taipei Ko Wen-je pada hari Sabtu tanggal 12 Mei menyampaikan bahwa dalam dunia perpolitikan, masyarakat Taiwan terikat oleh 6% golongan yang benar-benar memilih berpihak kepada pan biru ataupun pan hijau. Untuk itu pada tahapan awal, biasanya hasil jajak pendapat akan lebih berpihak di dua sisi secara nyata. Namun sebenarnya, mayoritas masyarakat yang ada adalah mereka yang memilih berada di tengah-tengah atau titik netral alias tidak terlampau berpihak kepada salah satu golongan apapun.
Ko Wen-je saat menerima wawancara di salah satu radio menjelaskan bahwa dirinya berpendapat jika kalimat “Antar selat adalah saudara” tentu akan membuat masyarakat yang mendengarnya merasa tidak nyaman. Sehingga dengan amat terpaksa, disini juga disampaikan permintaan maaf yang sebsar-besarnya. Hal ini telah menuai berbagai pendapat yang kontroversi. Partai DPP juga telah melakukan jajak pendapat dari para anggota dewan serta suara dari masyarakat kelas bawah, dimana lebih banyak terdengar suara untuk mengusung kandidat walikota dari partai sendiri.
Berkenaan dengan hal ini, Ko Wen-je menjelaskan bahwa dalam kehidupan berpolitik di Taiwan, diketahui bahwa masyarakat Taiwan pada umumnya dikuasai oleh 6% masyarakat, dimana mereka pada umumnya memiliki sikap yang lebih radikal, kerap bersuara dalam berbagai hal, bisa menelepon ke saluran pengaduan. Sementara rakyat umum justru jarang memberikan suara dan pendapatnya. Oleh sebab itu, jika jajak pendapat dilakukan saat sekarang, maka hasil yang diperoleh biasanya akan lebih condong merujuk ke salah satu pihak, meskipun pada umumnya masyarakat memilih untuk tidak berpihak alias netral.
Ko Wen-je mengatakan, “Ini adalah sebuah permasalahan yang besar, khususnya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Saya rasa suara politik rakyat telah dikuasai oleh komunitas tertentu yang berjumlah 6%. Saya juga merasa tertarik dengan kondisi seperti demikian. Namun saya tetap akan mencari solusi keluarnya tanpa memandang pan hijau ataupun pan biru.”
Berkenaan dengan sang ibunda Ho Rui-ing yang belum lama ini sempat mengatakan bahwa jika partai DPP akan mengusung kandidat mereka sendiri, maka artinya telah impas dan tidak berhutang lagi, Ko Wen-je menjelaskan bahwa usai dipikir-pikir, apa yang dikatakan oleh sang ibu tidak benar, dimana sebagai abdi negara, maka sudah selayaknya memberikan pelayanan bagi rakyat dan bekerja, tidak ada yang namanya hutang piutang.
Selain itu, Mantan Wakil Presiden Annete Lu sempat menyinggung bahwa kemenangan Taiwan dalam Universiade tahun 2017, dikarenakan pihak Daratan Tiongkok yang mengalah, serta Ko Wen-je juga disebut-sebut sempat mengatakan bahwa Kontingen Daratan Tiongkok hanya terdiri dari atlit kelas dua. Terkait hal ini, Ko Wen-je menyampaikan bahwa jika ada salah ucap, maka cukup minta maaf. Namun ia menyebutkan jika Taiwan yang kerap menganggap Daratan Tiongkok sebagai lawan, namun melupakan keberadaan Daratan Tiongkok dalam dunia. Sekalipun pihak Daratan Tiongkok tidak mengutus atlit yang terbaik, namun masih ada kontingen asal Amerika, Jerman, Jepang dan lain sebagainya, dimana hal ini juga harus turut dipertimbangkan.