History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Museum HAM Nasional Mencatat Lembaran Sejarah Baru Taiwan

  • 09 May, 2018
  • Editor
Museum HAM Nasional Mencatat Lembaran Sejarah Baru Taiwan
Museum HAM Nasional Mencatat Lembaran Sejarah Baru Taiwan

        (Taiwan, ROC) – Setelah menjalani masa persiapan lebih dari 6 tahun, Museum HAM Nasional diresmikan pada tahun ini, dan upacara pemasangan papan nama “Pulau Hijau Teror Putih” dan “Taman Memori Jingmei” masing-masing akan dilakukan pada tanggal 17 dan 18 Mei mendatang. Ini juga pertanda Taiwan telah mengimplementasikan pendidikan hak asasi manusia, membuka ruang yang lebih lebar untuk masalah HAM dan menulis lembaran sejarah yang baru.

        Kepala Museum Chen Jiunn-horng menjelaskan pada tanggal 17 Mei 1951, para tahanan korban politik angkatan pertama dipindahkan ke Pulau Ludao. 17 Mei dipilih sebagai momen yang cocok untuk pelaksanaan upacara pemasangan papan nama, sehingga turut menyampaikan rasa hormat bagi para korban.

        Dalam kegiatan upacara tanggal 17 Mei tersebut, pihak museum juga turut mengundang para korban dan keluarga korban tahanan politik, sehingga bisa bersama mengabadikan momen bersejarah yang bertajuk “Kembali ke Pulau Ludao”. Dalam acara kegiatan, juga turut menampilkan hasil karya Tsai Ruei-yue, yang juga menjadi korban tahanan politik tahun 50 an, serta pertunjukkan dari paduan suara pelajar SD Shin Hsing Kabupaten Taitung. Sementara malam harinya akan turut mengundang musisi muda, Drum Band Samba dari SD Ludao, Grup Tabuh SD Gongguan. Dengan keikutsertaan para generasi muda dalam bidang tari dan musik, diharapkan mampu menjembatani sejarah lama dan perjuangan hak asasi manusia.

        Sementara itu pada tanggal 18 Mei, saat upacara pemasangan papan nama untuk kawasan Jingmei, juga akan turut meluncurkan pameran fotografi yang bertajuk HAM Internasional, dan serangkaian seminar HAM terkait.

        Kepala Musuem HAM Nasional Chen Jiunn-horng menegaskan bahwa kedua lokasi museum yang dikelolanya adalah museum pertama di kawasan Asia yang memadukannya dengan letak lokasi sejarah, menjelaskan keburukan diktator terhadap HAM, memiliki tugas dalam memberdayakan pendidikan HAM, melakukan riset penelitian sejarah, menguak kebenaran dan menjadi wadah pertukaran HAM Internasional.

        Chen Jiunn-horng mengatakan, “Kami berharap di kedepannya dengan 2 titik museum ini, Museum HAM NAsional dapat berperan sebagai koki pusat pendidikan HAM, menghidangkan ragam jenis bahan dan sumber daya pendidikan terkait HAM. Di sisi lain, turut mengemban tugas dalam riset penelitian, membantu proses reformasi dan menguak kebenaran-kebenaran yang tersimpan dalam kejadian sejarah. Yang lainnya, menurut saya adalah mampu menjadi sebuah wadah pertukaran HAM dengan internasional. ”

        Usai peresmian, Museum HAM Nasional akan segera menjalankan tugas dengan menggelar serangkaian kegiatan, sehingga lebih mampu dan memudahkan penanaman bibit pendidikan tentang HAM.

Komentar

Terbarumore