(Taiwan, ROC) – Pada tanggal 7 Mei mendatang, pihak Kementrian Keuangan atau MOF pada hari Senin tanggal 7 Mei mendatang akan mengumumkan data statistik jumlah nilai ekspor Taiwan. Pakar ahli menyebutkan bahwa sekalipun telah terjadi perang dagang antara pihak Amerika dengan Daratan Tiongkok dan berbagai masalah perekonomian lainnya, namun iklim usaha dunia internasional secara garis besar, bisa dikategorikan tengah memasuki jalur pertumbuhan yang normal, sehingga diprediksi pertumbuhan nilai ekspor juga akan terus berjalan. Pada kwartal ke dua, petugas MOF memprediksi jika berkesempatan maka pertumbuhan nilai ekspor akan mampu mencapai angka 8,6%.
Sehubungan dengan iklim kondisi usaha yang ada dalam dunia, dimana mulai perlahan dapat masuk kembali ke jalur pertumbuhan yang normal, hal ini dikarenakan adanya kebutuhan dalam hal produk digitalisasi, IOT, baterai motor dan berbagai produk elektronik jenis baru, dimana semuanya menjadi permintaan pasar cukup besar dan berkesinambungan. Ini tentu saja sekaligus mengangkat jumlah ekspor Taiwan, yang secara berturut selama 16 bulan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Namun karena pada bulan Februari tahun ini, adanya musim liburan Tahun Baru Imlek, maka jumlah permintaan ekspor mengalami penghentian sementara, yang kemudian kembali lagi tumbuh berkembang pada saat memasuki bulan Maret, dengan nilai total sekitar US$ 30 milyar per bulannya. Angka ini berhasil mencetak rekor terbaru, yang sekaligus turut mendorong persentase pertumbuhan nilai ekspor pada kwartal pertama mencapai angka 10,6%. Pertumbuhan 2 digit seperti demikian telah berhasil dipertahankan selama 6 kwartal secara berturut.
Petugas dari MOF menjelaskan bahwa nilai ekspor pada kwartal pertama mengalami pertumbuhan 2 digit, hal ini dikarenakan membaiknya iklim usaha duni, merebaknya pertumbuhan usaha teknologi bidang terbarukan, ditambah lagi dengan harga bahan baku internasional yang terus merambat naik, serta naiknya jumlah permintaan asal Daratan Tiongkok untuk onderdil produk elektronik secara signifikan. Semua faktor ini diharapkan dapat turut mempengaruhi jumlah ekspor untuk kwartal ke dua, diprediksi berkemungkinan akan lebih tinggi nilai pertumbuhannya dibandingkan dengan hasil prediksi dari DGBAS, yang hanya memprediksi angka pertumbuhan nilai ekspor sebesar 8,6%. Pihak MOF menyebutkan jika jumlah pertumbuhan untuk kwartal ke dua juga mampu mencetak angka 2 digit.
Namun, sehubungan dengan semakin memanasnya kondisi perang dagang antara Daratan Tiongkok dengan Amerika, ditambah lagi dengan masalah politik, maka tentu saja seluruh negara di dunia akan hadapi ketidakstabilan dalam hal pertumbuhan perekonomian, hal ini tentu saja akan turut memberikan dampak bagi Taiwan sendiri. Khususnya jika merujuk kepada salah satu rival dagang Taiwan, yakni Korea Selatan, dimana jumlah ekspo pada bulan April negara Korea Selatan sempat turun 1,5%, menjadi penurunan pertumbuhan yang pertama kali terjadi selama 18 bulan terakhir. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, jika nilai pertumbuhan ekspor Taiwan pada bulan April tidaklah sebaik yang diprediksi oleh Kementrian Keuangan.