Wakil Ketua Asosiasi untuk Hubungan Antar Selat Taiwan(ARATS) Sun Ya-fu(孫亞夫) pada tanggal 8 April mengklaim terhadap Amerika memanfaatkan Taiwan, sementara Daratan Tiongkok menghadapi tantangan dan resiko dalam dasar tahap perkembangan, maka dalam menghadapi situasi aktual perkembangan lintas selat Daratan Tiongkok mengadopsi konsep pembalasan.
Media Takungpao memberitakan, Sun Ya-fu saat diwawancarai ia menegaskan kembali bahwa ketika strategi yang dijalankan Amerika Serikat memanfaatkan Taiwan, pihak Daratan Tiongkok masih bersikeras dengan kebijakan Satu Tiongkok, menolak keras Taiwan berdaulat, mempertahankan pertukaran hubungan masyarakat Taiwan, berlanjut dengan kerjasama pertukaran antar selat untuk sektor perekonomian, sosial budaya dan lain-lain.
Mengutip penuturan yang dilontarkan Sun Ya-fu, struktur dasar situasi selat Taiwan ada 3 sudut yakni Daratan Tiongkok, Amerika Serikat dan Taiwan, saat Amerika ingin menahan perkembangan Daratan Tiongkok maka secara bersamaan meningkatkan kekuatan Taiwan, sehingga ini menjadi situasi yang mendasari. Akan tetapi di sisi lainnya, Amerika juga mengakui kebijakan Satu Tiongkok, sebenarnya tindakan ini berlawanan dengan perjanjian Amerika-Daratan Tiongkok, menentang dasar pembinaan hubungan Daratan Tiongkok-Amerika.
Ia mengatakan, jika dilihat secara keseluruhan, dikarenakan Amerika Serikat memanfaatkan Taiwan, Daratan Tiongkok masih mengandalkan kekuatan pribadi untuk berkembang, perlu adanya tekad dan kepercayaan diri agar di atas dasar kekuatan pengembangan ini dapat menghadapi resiko dan tantangan yang ada maka mengadopsi konsep pembalasan.
Sun Ya-fu mengatakan, mempromosikan reunifikasi damai menemui banyak kendala, maka Daratan Tiongkok wajib memperkokoh kekuatan militer dan stabilitas nasional, mencakup kekuatan militer yang mampu menghadapi segala masalah nasional. Jika Taiwan berdaulat terwujud, maka sudah pasti Daratan Tiongkok akan mengambil semua cara yang diperlukan.