(Taiwan, ROC) Upacara peringatan Peristiwa 2-28 hari Kamis digelar di alun-alun Gedung Memorial Peristiwa 2-28, diawali dengan pengheningan cipta sepanjang satu menit untuk mengenang 183 korban yang ditangkap tanpa alasan 71 tahun lalu dan tetap hilang sampai sekarang.
Melalui sambutannya, Direktur Yayasan Peringatan Peristiwa 2-28 Hsueh Hua-yuan (薛化元) menyerukan rakyat Taiwan sama-sama menanti tibanya masa keadilan sejarah, dan percaya bahwa fakta sejarah mengenai Peristiwa 2-28 akan bisa menjadi lebih jelas berkat upaya keras dari pemerintah dan para tokoh yang menaruh prihatin.
Hsueh mengatakan, “Peristiwa 2-28 adalah tragedi besar bagi keluarga korban. Kalau fakta tentang insiden tersebut tidak tergali, sama halnya dengan pukulan keras ganda bagi mereka.”
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perserikatan Peduli Peristiwa 2-28 Pan Hsin-hsing (潘信行) mengetengahkan, keadilan transisional tidak terlepas dari tiga proses keadilan, yaitu menggali fakta, menghukum pihak yang bersalah dan mencapai perdamaian.
Menurut Pan, yang paling dikhawatirkan tidak akan terwujud adalah bagian proses “menghukum pihak yang bersalah,” maka kalau memungkinkan, ia berharap bisa membentuk suatu komisi investigasi swasta untuk menangani masalah bersangkutan.
Pan mengatakan, “Andaikata proses menghukum pihak yang bersalah tidak mampu diwujudkan, berarti keadilan tidak akan bisa tercapai.”
Pan juga menegaskan, upacara peringatan serupa akan digelar di lokasi yang sama setiap tahun kedepan, diharapkan setidaknya bisa mendatangkan sedikit kedamaian dalam hati keluarga korban.
Untuk diketahui, yang dimaksud dengan Peristiwa 2-28 adalah insiden penindasan berdarah di Taiwan dalam kurun waktu tiga bulan dari 28 Februari 1947 sampai Mei 1947. Insiden ini diwarnai dengan penangkapan dan pembunuhan secara acak pada warga sipil Taiwan yang dianggap pengacau oleh tentara Nasionalis.