(Taiwan/ROC) --- Komite keuangan Yuan Legislatif pada Senin (2/4) mengundang Gubernur Bank Sentral Yang Chin-long (楊金龍) untuk memberikan kaporan khusus terkait “Perbandingan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan GDP Taiwan dengan Singapura, Korea Selatan dan Hongkong” selama 20 tahun terakhir. Di dalam laporan tersebut memaparkan bahwa sesaat setelah krisis ekonomi; Hongkong, Singapura dan Korea Selatan memusatkan kebijakan terhadap strategi permintaan dalam negeri, yang ternyata mampu memajukan perekonomian mereka melebihi Taiwan. Yang Chin-long melanjutkan bahwa pemerintah dapat menggunakan strategi yang serupa guna untuk mengembangkan perekonomian. Ia menambahkan bahwa permasalahan upah minimum juga menjadi kunci yang harus segera diselesaikan.
Berdasarkan laporan Bank Sentral, tingkat GDP Taiwan pada tahun 2017 sebesar US$ 24.000. Angka ini lebih rendah jika dibangdingkan dengan Korea Selatan US$ 29.000, Hongkong US$ 44.000 dan Singapura US$ 53.000. Namun jika dilihat dari tingkat daya beli masyarakat, Taiwan jauh lebih unggul dari Korea Selatan. Selain Korea Selatan, daya beli masyarakat Taiwan juga melebihi Hongkong dan Singapura.
Gubernur Bank Sentral dalam laporan terkait mengemukakan bahwa semenjak krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2008; Hongkong, Singapura dan Korea Selatan memusatkan pada permintaan domestik sebagai strategi untuk mengembangkan perekonomian. Misalkan dengan meningkatnya permintaan domestik di Singapura yang rata-rata didominasi oleh investasi swasta. Selain Singapura, permintaan domestik Hongkong juga rata-rata berasal dari daya konsumsi swasta dan Korea Selatan berasal dari investasi pemerintah dan swasta. Untuk Taiwan sendiri, daya konsumen dan nilai investasi swasta mengalami penurunan, yang akan berdampak pada permintaan dalam negeri. Yang Chin-long ketika ditanya, kembali menjawab bahwa pemerintah dapat memusatkan kepada permintaan dalam negeri, guna untuk menyelesaikan beberapa masalah perekonomian meliputi meningkatkan nilai investasi dan daya beli serta menyelesaikan polemik upah minimum.
Yang Chin-long mengatakan, “Dikarenakan kami ikut bergabung dalam rantai pasokan global dan banyak para pelaku usaha kita yang menanam investasi di luar negeri sehingga menyebabkan penyerapan tenaga kerja di domestik berkurang. Kedua, kami memiliki banyak barang setengah jadi dan harga ini tidak mudah untuk ditingkatkan. Ketiga, dikarenakan keadaan seperti inilah menyebabkan menurunnya interaksi antar sesama pekerja. Dan ketika interaksi ini tidak dapat berkembang, maka upah minimum juga akan sulit naik.”
Terkait dengan saran Bank Sentral untuk mengintegrasikan permintaan domestik guna untuk meningkatkan nilai upah minimum, ternyata mengundang reaksi dari dunia luar. Mereka menilai bahwa Bank Sentral akan mengadopsi strategi dengan meningkatkan nilai tukar dan suku bunga. Yang Chin-long mengklarifikasi bahwa ini merupakan penilaian yang berlebihan. Ia menekankan bahwa Bank Sentral tidak akan pernah menerapkan kebijakan seperti yang diisukan tersebut.