(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan pembahasan Chinese Petroleum Corporation yang disebutkan akan membangun pabrik pengilangan minyak di Indonesia, sekalipun kini masih dalam tahapan negosiasi antar ke dua belah pihak, tetapi hasil keputusan akhir diperkirakan akan dapat diambil sebelum tanggal 31 Maret mendatang. Berkenaan dengan hal ini, banyak pengusaha Taiwan yang tengah melakukan investasi di Indonesia, khususnya di bidang tekstil dan garmen menyambut baik adanya program rencana tersebut.
General Manager Sinar ML, Ko Bai-rang saat diwawancara oleh media menjelaskan bahwa Taiwan merupakan negara yang telah berkembang dan maju, daya penyerapan industri petro kimia juga sudah tidak begitu tinggi, sehingga jika teknologi pengilangan tersebut dapat diekspor hingga ke Indonesia, tidak saja mampu meningkatkan keunggulan Indonesia dalam hal pengilangan minyak, menurunkan beban biaya produksi lokal, juga mampu mengekspansi sistim teknologi pengilangan minyak yang dimiliki oleh Taiwan hingga ke pasar Indonesia. Hal ini akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Ko Bai-rang mengatakan, “Indonesia sendiri masih belum memiliki pabrik pengilangan minyak sendiri, sehingga masih belum mampu untuk menyediakan kebutuhan minyak dasar dalam negeri, dimana semua bahan material masih harus mengandalkan impor dari luar negeri. Hal ini merupakan sebuah pasar yang sangat besar, jika program rencana kolaborasi berhasil terbentuk, saya kira tidak hanya teknologi pengilangan, ke depannya juga mampu menarik mata rantai industri lainnya. Ini adalah sebuah hal yang baik, karena bahan baku dapat diproduksi di dalam negeri, selain mudah diperoleh, cepat dan mungkin juga murah, maka selanjutnya akan semakin banyak pabrik yang akan tercipta, karena perolehan bahan baku yang murah dan efisien.”
Kepala Asosiasi Pengusaha Taiwan di Bandung Wang An-juo juga berpendapat bahwa dirinya menyambut baik tentang masuknya teknologi pengilangan ke Indonesia. Namun dirinya masih memiliki kekhawatiran berkenaan dengan kemungkinan masuknya campur tangan pemerintah Indonesia ke dalam pasar industri petro kimia. Ko Bai-rang menyebutkan bahwa sekalipun ada kemungkinan tersebut, maka bisa dikatakan hanya akan berlangsung dalam jangka waktu pendek, karena adanya persaingan globalisasi dunia internasional. Jika bahan baku yang ada memiliki harga modal yang tinggi, tentu perusahaan Indonesia juga tidak akan mampu bertahan, dan justru akan kembali menggunakan bahan produk impor lagi.