History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Ma Ying-jeou: Tragedi 228 Jangan Menjadi Alasan Pemicu Pertikaian Politik

  • 01 March, 2018
  • Editor
Ma Ying-jeou: Tragedi 228 Jangan Menjadi Alasan Pemicu Pertikaian Politik
Ma Ying-jeou: Tragedi 228 Jangan Menjadi Alasan Pemicu Pertikaian Politik

(Taiwan, ROC) – Mantan Presiden Ma Ying-jeou pada hari Rabu pagi tanggal 28 Februari mendatangi kuil Fu De yang berada di dalam Taman 228 kota Taipei untuk memberikan doa, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Prasasti Tragedi 228 dan Museum Peringatan Tragedi 228. Sepanjang jalan tersebut, Ma ditemani oleh anggota keluarga korban tragedy 228, Hsu Guang, You Bi-yuan, Chen Hsin-nio dan Liao Ji-bing.

        Dalam kata sambutannya Ma Ying-jeou menjelaskan bahwa 71 tahun silam, tepatnya pada tanggal 27 Februari malam hari, karena diawali dengan penggeledahan kasus rokok ilegal oleh aparat pemerintah, yang kemudian memicu terjadinya pertikaian berdarah dengan masyarakat, maka menyulut emosi seluruh rakyat dan publik. Sehari setelah kejadian tersebut, rakyat melakukan aksi protes kepada pemerintah dan kemudian berkelanjutan dan menyebar hingga ke seluruh penjuru Taiwan. Kala itu Perdana Menteri Chen Yi meminta bala bantuan dari pemerintah Daratan Tiongkok, dimana pasukan tiba di Taiwan pada tanggal 9 Maret dan terjadi bentrokan antara pemerintah dengan rakyat sipil yang menyebabkan luka dalam hati masyarakat Taiwan selama puluhan tahun lamanya.

        Ma Ying-jeou menyebutkan 30 tahun silam, Perdana Menteri Hau Pei-tsun kala itu mengakui perbuatan pemerintah yang tidak sepantasnya terjadi, dan kemudian turut serta bersama dalam pelaksanaan program pemberian santunan dan bantuan bagi para korban tragedi 228, dan saat Ma menjabat sebagai Menteri Kehakiman merubah kata “Dana ganti rugi” menjadi “Dana kompensasi”, sehingga korban atau keluarga korban dapat menerima dana santunan tersebut tanpa harus memberikan bukti, dimana hal ini turut menjadi bagian pelonggaran yang dilakukan oleh pemerintah terkait tragedi 228 tersebut.

        Ma Ying-jeou menjelaskan bahwa merujuk kepada data statistik yang dimiliki, jumlah korban meninggal dunia atau hilang tanpa kabar sebanyak 865 orang, dimana 160 orang di antaranya disebutkan tidak diketahui keberadaannya. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam riset penelitian, dimana diperkirakan korban akibat tragedi 228 mencapai puluhan ribu jiwa. Ma berharap tragedi 228 tersebut tidak digunakan sebagai alasan pemicu pertikaian dalam dunia perpolitikan di Taiwan.

        Ma Ying-jeou mengatakan, “Kenyataan yang telah terkuak masih harus terus digali lebih banyak lagi, namun saya berharap hal ini tidak menjadi alasan yang dipergunakan dalam dunia politik sehingga menyebabkan pertikaian partai. Terlebih-lebih belakangan ini ada pihak yang menyebutkan penggunaan peluru dumdum saat tragedi. Untuk hal ini sejujurnya saya katakan, bahwa pihak prajurit tentara pemerintah tidak memiliki alat senjata seperti demikian, walau bagaimanapun, setiap tuduhan yang disebutkan, sebaiknya disertakan dengan bukti yang kuat dan nyata.”

        Ma Ying-jeou menegaskan bahwa jumlah korban bukan kunci utama permasalahan ini, namun yang paling penting adalah bagaimana caranya menenangkan hati para anggota keluarga korban saat ini. Dengan adanya kerja keras yang dilakukan selama ini, masalah ini secara perlahan juga telah mulai memudar tingkat luapan emosi di dalam hati masyarakat, dan dirinya berharap pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak masyarakat untuk meredakan rasa sakit hati secara perlahan. Ma juga meninggalkan pesan dalam papan pesan yang terletak di dalam museum tersebut, dengan menuliskan kata-kata “Menghadapi masalah sejarah, harus fokus kepada titik permasalahan, mampu membedakan kebenaran. Menghadapi keluarga korban, harus mampu menyikapi dengan hati, membalut dan mengobati luka yang telah tergores sebelumnya.

Komentar

Terbarumore