(Taiwan/ROC) Anggota parlemen Eropa pada Kamis (18/1) menggelar rapat di Strasbourg, Paris. Dalam rapat tersebut, mereka membahas dan mengeluarkan resolusi mendesak perihal isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) Daratan Tiongkok yang menimpa beberapa tokoh, meliputi Li Ming-ze (李明哲), Wu Gan(吳淦), Hsieh Yang (謝陽), dan Tashi Wangchuk (扎西文色). Parlemen Eropa juga mengkritik situasi HAM di Daratan Tiongkok dan menilai bahwa kasus yang menimpa Li Ming-ze lebih tepat disebut kasus penculikan.
Berdasarkan resolusi yang dikumandangkan oleh Parlemen Eropa, memberikan perhatian penuh terhadap pemerintah Daratan Tiongkok terkait penanganan aktivitas pembela HAM, parlemen Eropa mengingatkan Daratan Tiongkok untuk dapat memikul tanggung jawab secara global. Pihak berwenang Daratan Tiongkok harus mengacu kepada Deklarasi Universal HAM dalam menangani dokumen akitivis HAM serta wajib menjunjung tinggi hak kebebasan dasar sebagai manusia.
Resolusi parlemen Eropa kali ini akan mendesak pihak Daratan Tiongkok untuk melakukan beberapa tindakan, meliputi pelepasan semua aktivis HAM yang ditahan tanpa syarat, perlindungan dan berhenti mengancam para pengacara pembela HAM. Dalam resolusi tersebut, secara khusus juga menyerukan untuk segera membebaskan Li Ming-ze tanpa syarat. Selain itu, mereka juga meminta Daratan Tiongkok untuk tidak bertindak semena-mena atau melakukan penyiksaan terhadapnya, kemudian mengizinkan pihak keluarga untuk menjenguk dan memberikan jaminan perawatan kesehatan serta kebebasan untuk menunjuk pengacara pribadi.
Kementerian Luar Negeri (MOFA) pada Jumat (19/1) mengucapkan terima kasih. Selain itu, organisasi masyarakat Taiwan akan berinisiatif untuk membantu Li Ming-ze, MOFA dan instansi pemerintah juga akan secara aktif bekerja sama.
Li Ming-ze ditangkap oleh Daratan Tiongkok pada tahun lalu atas tuduhan melakukan kejahatan subversi negara. Ia juga telah dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun. Aktivis HAM Hsieh Yang dan Wu Gan pada tahun 2015 juga ditangkap oleh pihak berwenang Daratan Tiongkok dan didakwa telah berusaha melakukan kejahatan subversi terhadap kekuasaan negara, peristiwa ini dikenal dengan “penangkapan besar-besaran 709”. Tashi Wangchuk yang berasal dari Tibet, juga ditangkap dikarenakan tengah mempromosikan pendidikan Bahasa Tibet. Tindakan ini dinilai sebagai hasutan yang dapat memecah belah Negeri tirai bambu tersebut.
Pada Kamis (18/1) lebih dari 10 anggota parlemen Eropa berbicara secara bergantian dan mendukung resolusi tersebut. Banyak dari mereka yang menyebutkan kasus Li Ming-ze, salah satunya, Bas Belder yang merupakan anggota parlemen asal Belanda, menyebutkan dalam menghadapi masalah HAM Daratan Tiongkok, 28 negara Uni Eropa harus dapat memiliki pemikiran yang koheren dan kuat. Ia juga melanjutkan bahwa kasus Li Ming-ze, lebih tepat disebut sebagai kasus penculikan.
Karmenu Vella yang merupakan anggota komisioner Uni Eropa, juga sempat mengungkit kasus Li Ming-ze. Ia menerangkan bahwa kasus ini menimbulkan keprihatinan publik terhadap Daratan Tiongkok, meliputi proses hukum, HAM dan kebebasan berekspresi. Uni Eropa akan memantau secara seksama perkembangan kasus-kasus ini dan akan bertindak sebagai pihak yang menyerukan pembebasan para aktivis tersebut.