History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Buruh migran berdemo menuntut hak pokok

  • 08 January, 2018
  • Editor
Buruh migran berdemo menuntut hak pokok
Aksi protes di sekitar Yuan Legislatif menuntut Undang-undang Standar Ketenagakerjaan yang lebih sempurna

(Taiwan, ROC) Lebih dari 1.000 buruh migran dari negara-negara Asia Tenggara beserta para pendukungnya mengadakan aksi rally di Taipei pada hari Minggu, meneriakkan slogan “Hidup bersama, ambil keputusan bersama,” menuntut pemerintah menyelesaikan masalah-masalah yang sudah lama ada dalam sistem tenaga kerja asing Taiwan, dan memberikan hak pokok bagi suara mereka untuk dipertimbangkan dalam penetapan kebijakan buruh asing.

Aksi demo yang diorganisir Migrants Empowerment Network in Taiwan (MENT) itu berawal di gedung Kementrian Tenaga kerja (MoL), di mana wakil-wakil tenaga kerja dari Filipina, Indonesia, Vietnam, Thailand dan daerah lain satu demi satu berpidato untuk mengungkapkan tuntutan masing-masing, sebelum para peserta berbaris dan berjalan menuju Kantor Kepresidenan.

Salah satu hal yang dituntut adalah diberikannya hak bagi perawat rumah tangga untuk ganti majikan; sebagian lainnya menyerukan dihapuskannya sistem agen tenaga kerja, yang menurut mereka selalu menagih beaya ilegal dan membuat mereka terjebak dalam utang berulang-ulang, suatu isu yang sejak dulu menodai catatan hak asasi manusia Taiwan.

“Kami tidak suka pada agen,” kata Marisa Dumayag, seorang perawat rumah tangga dari Filipina. “Mereka tidak memberi bantuan pada saat dibutuhkan. Sama sekali tidak ada gunanya bagi kami untuk membayar NT$1.800 per bulan.”

Sementara itu, seorang perawat rumah tangga dari Indonesia bernama Indrayani mengutarakan, undang-undang ketenagakerjaan di Taiwan seharusnya juga berlaku bagi perawat rumah tangga agar mereka bisa menikmati liburan mingguan.

“Tanpa perlindungan hukum, kami tidak punya waktu istirahat yang cukup,” katanya. “Kami juga membutuhkan waktu untuk mencari teman dan mengobrol dengan keluarga di kampung halaman.”

Komentar

Terbarumore