History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Upah Tidak Cukup Pengaruhi Angka Kelahiran

  • 04 January, 2018
  • Editor
Upah Tidak Cukup Pengaruhi Angka Kelahiran
Upah Tidak Cukup Pengaruhi Angka Kelahiran

(Taiwan, ROC) – Rendahnya angka kelahiran telah menjadi ancaman keamanan negara. Mengapa anak muda banyak yang tidak ingin mempunyai anak? Dalam hasil penelitian yang diumumkan oleh salah satu bursa kerja pada hari ini menunjukkan, alasan utama para pekerja belum berpasangan atau belum menikah adalah belum memiliki pasangan yang sesuai, pemasukan hanya dapat menghidupi diri sendiri dan tidak cocok menikah atau tidak ingin terikat. Bagi para pekerja yang telah menikah dan mempunyai anak mengatakan, pemasukan rumah tangga setidaknya 78.599 dolar Taiwan per bulan, baru dapat menghidupi 1 orang anak.

“Jika hanya gaji pokok, tidak ada bonus atau naik gaji, untuk menghidupi diri sendiri masih harus mencari kerja sambilan, sehingga tidak mungkin menghidupi 1 kehidupan atau 1 anak. Tekanan sangat besar, sama sekali tidak berniat untuk memikirkan hal ini.”

Amy, seorang petugas perbankan yang telah memasuki usia seharusnya menikah, 36 tahun, sama sekali tidak berpikir untuk menikah. Dia mengatakan, upahnya hanya 28 ribu, ditambah sambilan hanya sekitar 30 ribu lebih. Tekanan ekonomi sangat besar sehingga tidak berani menikah dan melahirkan.

Departemen Humas bursa kerja 1111 yang juga manager pusat penelitian kerja, Lee Da-hua mengatakan, sejalan meningkatnya pendidikan tinggi, usia mulai bekerja pun meningkat, ditambah pertimbangan gaji dan kondisi ekonomi keseluruhan, khawatir jika menikah dan melahirkan justru akan menyusahkan di masa depan, menyebabkan banyak orang memilih tidak terlalu cepat menikah atau tidak sama sekali. Dia mengatakan, “Jika pemasukan keduanya tidak mencapai 80 ribu, pekerja jaman sekarang tidak berani mempunyai keturunan.”

Yang perlu diperhatikan adalah, dari 23% orang yang telah menikah dan punya anak mengatakan, pernah mendapat perlakuan tidak adil karena menikah atau mempunyai anak saat bekerja. Contohnya, sangat jelas mendapat perlakuan, sikap atau kata-kata yang kurang ramah, rekan kerja atau atasan yang mengatakan menjadi beban, dan ada juga yang secara tidak langsung menyatakan mempengaruhi perkembangan usaha. Hal ini membuat para pekerja tidak percaya diri akan lingkup mempunyai anak di dalam negeri, sangat mempengaruhi kesuburan dalam jangka panjang.

Penelitian ini dilakukan pada 18 Desember 2017 – 3 Januari 2018, terhadap para anggota bursa kerja, dengan total 1.240 eksemplar.

Komentar

Terbarumore