(Taiwan, ROC) – Sehubungan dengan program bantuan peningkatan level untuk sistim pesawat tempur jenis F-16A/B menjadi F-16V, dimana 4 pesawat tersebut kini tengah menjalani tes uji coba darat, dan diprediksi akan mulai resmi dioperasikan pada awal tahun 2018 oleh Satuan Angkatan Udara di Taiwan.
Program pembaharuan pesawat tempur F-16 tersebut diberi nama “Feng Zan atau Bentangan Feniks”, dengan dana reparasi senilai NT$ 110 milyar, yang mencakup sebanyak 144 buah pesawat tempur jenis F-16A/B yang ditingkatkan level sistim dan fungsi menjadi F-16V. Pihak Satuan Angkatan Udara pada hari Rabu tanggal 27 Desember menyampaikan bahwa ke 4 buah pesawat yang telah dirampungkan kini telah berada di perusahaan Han Xiang, dan tengah memasuki tahapan tes uji darat oleh penguji pesawat dari perusahaan Lockheed Martin Amerika. Selepas uji coba darat, maka pesawat tersebut mulai dapat diterbangkan di Taiwan, dimana selanjutnya baru diserahkan kepada pihak AU.
Merujuk kepada program rencana dari satuan AU, 4 buah pesawat akan rampung pada akhir tahun dan untuk perbaikan alutsista secara keseluruhan dapat diselesaikan pada tahun 2023 mendatang. Program ini juga akan menjadikan Satuan Angkatan Udara di Taiwan menjadi negara pertama yang menggunakan pesawat tempur jenis F-16V.
Bagian yang terpenting di dalam program “Bentangan Feniks” adalah perbaikan peralatan radar sensor AESA jenis AN/APG-83, dimana dapat melakukan tugas pengamatan, pelacakan dan penargetan objek pada waktu yang bersamaan. Selain itu perbaikan alutsista yang dilakukan juga meliputi komputer administrasi, agenda keprotokolan kabin pesawat, sistim sensor pelacakan target pada helm kepala, sistim elektrisasi perang pada kabin pesawat dan rudal kendali jenis AIM-9X, dimana kesemua perbaikan ini telah meningkatkan daya tempur baru pesawat F-16.
Menteri Pertahanan dan Keamanan Feng Shih-kuang pada akhir tahun 2016, dalam rapat interpelasi di Yuan Legislatif menyampaikan bahwa dirinya optimis akan kemampuan tempur pesawat F-16V dalam menghadapi pesawat tempur jenis J-20 dan J-31 milik Daratan Tiongkok.