(Taiwan, ROC) Tidak puas dengan amandemen perlongaran“peraturan dasar ketenagakerjaan”tujuh hari kerja satu hari libur dan penyusutan waktu istirahat pergantian shift menjadi 8 jam, Organisasi Buruh hari Sabtu (23/12) sore mengelar demo. Perdana Menteri William Lai pagi hari saat menuju ke kota Tainan mengikuti kegiatan sembahyang, ketika diwawancarai mengemukakan, akan meminta Kementerian Tenaga Kerja untuk mengumpulkan semua tuntutan tenaga kerja sebagai bahan pertimbangan dan berharap demo dapat berjalan dengan lancar dan damai.
Mengenai ketidakpuasan organisasi buru terhadap amandemen perlonggaran 7 hari kerja 1 hari libur dan penyusutan waktu istirahat pergantian shift kerja menjadi 8 jam, Yuan Eksekutif juga menegaskan, ketetapan rutin dari pukul 9 malam hingga 5 pagi tidak termasuk dalam shift atau kebijakan industri yang menerapkan system shift kerja tidak berubah jadi tidak ada masalah waktu istirahat pergantian shift, semua berdasarkan peraturan dasar ketenagakerjaan, jam kerja setiap hari kerja selama 8 jam, batas lembur paling banyak 4 jam dalam arti maksimum jam kerja per-hari adalah 12 jam; mengenai perlonggaran “7 hari kerja 1 hari libur” Yuan Eksekutif juga menegaskan, setelah amandemen 2 hari libur dalam seminggu tidak berubah, harus mendapat persetujuan dari otoritas Pemerintah Pusat dan Kementerian Tenaga Kerja dengan mempertimbangkan bahwa memang ada kebutuhan untuk penyesuaian baru boleh melakukan perlonggaran, untuk bidang industri tertentu waktu kerja bisa berlangsung selama 6 hari kerja berturut-turut dengan maksimum 12 hari kerja berturut-turut.
Meskipun Yuan Eksekutif telah memberikan penjelasan mengenai amandemen peraturan namun organisasi buruh tetap beranggapan revisi ini memberikan kesempatan pada perusahaan dan tidak dapat memberikan jaminan bagi tenaga kerja untuk itu hari Sabtu (23/12) sore mereka melakukan demo turun ke jalan.