(Taiwan, ROC) – Perdana Menteri William Lai pada hari Rabu tanggal 13 Desember, saat menghadiri “Forum Diskusi Energi Terbarukan Internasional” menyampaikan bahwa pemerintah kini tengah mengusung berbagai program sumber energi terbarukan antara lain tenaga surya, tenaga angin lepas pantai dan lain sebagainya, dimana untuk masalah pendanaan program tersebut kini masih tengah dicari solusinya. Untuk itu pemerintah juga menghimbau pihak swasta dan masyarakat dapat turut berpartisipasi di dalamnya.
Dalam kata sambutannya, Lai menjelaskan bahwa sejak terjadinya insiden ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Chernobyl dan Fukushima, kini Taiwan tengah melangkah memasuki sebuah masa baru untuk bidang pengadaan sumber energi, dengan berkat dukungan dari masyarakat umum, maka dapat dipastikan Taiwan akan menjadi salah satu kawasan bebas nuklir pada tahun 2025 mendatang. Namun sebelum Taiwan mampu bergerak lebih jauh, pemerintah akan terus melakukan berbagai perbaikan peraturan dan undang-undang terkait pengadaan sumber energi listrik, dimana selain harus mampu menstabilkan penyediaan listrik di berbagai kawasan, juga turut mencanangkan kebijakan perbaikan polusi udara yang ada saat ini.
Pada tahun 2025 diprediksi sumber energi terbarukan tersebut mampu mencakup 20% dari jumlah total energi listrik yang ada, di antaranya 20 ribu hektar areal lahan untuk penyediaan sumber energi tenaga surya, pengadaan program atap genteng ramah lingkungan yang sekaligus berfungsi untuk menyimpan energi listrik, dimana pemerintah dan masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya pendanaan apapun, karena akan ditanggung secara penuh oleh pihak perusahaan swasta yang akan menyediakannya.
PM William Lai mengatakan, “Yang perlu dilakukan adalah melakukan pemasangan atap genteng dwifungsi penghasil tenaga listrik, dimana hal tersebut dibangun di luar bangunan yang ilegal, sehingga akan ada perbedaan antara bangunan liar dengan yang legal. Jika disatukan, tetap harus dipastikan kembali apakah melanggar peraturan ijin bangunan yang berlaku saat ini. Jika sebelumnya dikategorikan sebagai bangunan liar, tentu tidak dapat menggunakan program yang diusung tersebut. Namun karena banyak bangunan tambahan di Taiwan yang dikategorikan liar, maka kita hendaknya bersama-sama mengatasi masalah yang ada saat ini, agar program penyediaan sumber energi terbarukan yang diusung tersebut dapat diikuti oleh seluruh masyarakat.”
Untuk bidang sumber energi listrik tenaga angin, Lai menyebutkan bahwa pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai kini bisa menyediakan sebanyak 3,5 GW. Kini ada pihak perusahaan asal Eropa yang akan melakukan investasi untuk pembangunan sarana PLTA tersebut, dimana mampu menambah jumlah penyediaan listrik sebanyak 2,5 GW, sehingga total jumlah listrik yang tersedia mencapai angka 6 GW. Dewan Pelestarian Lingkungan telah meloloskan pengusungan program penyediaan listrik sejumlah 10 GW, dimana hal ini menjadi salah satu jalan keluar solusi pemecahan kekurangan listrik yang tengah dialami oleh pihak Taiwan.