(Taiwan, ROC) Program Wajib Militer di Luar Negeri dari Kementerian Luar Negeri telah memasuki tahun ke 17 dan lebih dari seratus orang yang ditugaskan sebagai diplomasi dan bantuan luar negeri setelah mereka menyelesaikan tugas wajib militernya, untuk itu kemenlu menganggap ini merupakan sistem “membina tenaga berbakat di luar negeri”, namun berdasarkan informasi setelah tahun depan wamil di luar negeri mungkin akan memasuki sejarah, tahun depan merupakan periode terakhir.
Setelah tahun 2001 Wamil di luar negeri mulai diberlakukan, selama 17 tahun secara kumulatif telah terkumpul 1.265 wamil pria 109 diantaranya mendaftarkan diri sebagai utusan khusus diplomat atau menjadi staf teknis dan karyawan perusahaan yang bekerja sama dengan Taiwan, untuk itu selain memberikan dampak positif, Yuan Eksekutif juga menganggap membantu mereka mendapatkan pekerjaan di luar negeri, sistem ini juga telah memperlihatkan hasil nyata pembinaan pendidikan pemuda dan tenaga berbakat luar negeri.
Meskipun memberikan banyak sumbangsih namun sehubungan dengan berkurangnya tenaga tentara dan adanya reformasi sistem kemiliteran, Kementerian Luar Negeri merencanakan untuk menghentikan wamil ke luar negeri sehingga setelah periode ke 18 tahun depan program ini akan berakhir, berdasarkan informasi tahun depan Kemenlu akan mengalokasikan 45 wamil di luar negeri tetapi dua tahun kemudian tidak ada satu orangpun wamil pria yang diberikan pada kemenlu.
Pejabat kemenlu ketika diwawancarai (24/11) mengemukakan, tetap akan meminta calon wamil pria pada kementerian dalam negeri namun juga sudah membahas apabila tidak ada wamil bisa mengutus tenaga suka rela karena ini memberikan sumbangsih pada hubungan persahabatan bilateral untuk itu selain akan membahas lagi mengenai alokasi tenaga di berbagai kedutaan besar ROC juga akan memberikan kesempatan tenaga suka rela, dengan kebijakan ini diharapkan dapat memperluas bantuan tenaga di luar negeri namun ini terbentur dengan masalah dana untuk itu memerlukan dukungan dari Yuan Eksekutif.